Outsource your programming projects at ScriptLance.com today - Free signup
Daftar di PayPal, lalu mulai terima pembayaran menggunakan kartu kredit secara instan.
Get paid To Promote at any Location
Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

Mudah dan cepat mengarang novel professional dengan Dramatica Pro

Judul Buku : Mudah dan cepat mengarang novel professional dengan Dramatica Pro
Pengarang : Laksamana Media
Penerbit : ANDI Yogyakarta
Halaman : 191
ISBN : 978-979-29-0601-1
Dramatica Pro merupakan software yang bertujuan untuk membangun dan mengembangkan konsep, ide dan teori mengenai cerita yang ingin Anda tulis dalam sebuah novel.
Dramatical dapat melakukan beragam kolaborasi dan analisis yang bersumber dari ide cerita yang ingin dikembangkan. Novel yang baik adalah novel yang berhasil menarik pembacanya ke dalam dunia cerita, merasakan suasana dan nuansa yang diciptakan, memancing dinamika emosi bersama setiap karakter, konflik dan klimaks yang terpecahkan dengan baik.
Ada 5 konsep perspektif yang merupakan dasar dalam membangun dan mengembangkan ide cerita Anda menggunakan Dramatica, yaitu :

  1. The Story Mind (Inti Cerita)
  2. The Overall Story Throughline (Alur Cerita Keseluruhan)
  3. The Main Character Throughline (Alur Tokoh Utama)
  4. The Impact Character Throughline (Alur Tokoh Pembantu)
  5. The Main Character vs Impact Character Throughline (Alur Tokoh Utama vs Pembantu)
Menciptakan tokoh sangat mudah dilakukan dengan menggunakan Dramatica Pro ini. Tokoh itu selain bisa kita beri nama, kita juga bisa menambahkan beberapa informasi penting terkait dengan tokoh tersebut, seperti Role nya yaitu peran tokoh tersebut dalam cerita, jenis kelamin tokoh tersebut, fungsi tokoh tersebut sebagai single player ataukah sebagai mulply player, identifikasi khusus (main character atau impact character), perwatakan tokoh tersebut (protagonist, antagonist, skeptic, sidekick, contagonist, guardian, reason, emotion). Kita pun bisa menambahkan foto untuk tokoh. Data tokoh pun bisa kita ubah-ubah sesuai dengan kebutuhan. Tokoh yang telah kita buat bisa kita hapus bila tokoh tersebut sudah tidak diperlukan lagi dalam cerita.
Untuk membangun penokohan, Dramatica Pro membagi dalam 4 dimensi penokohan untuk membentuk korelasi antar masing-masing tokoh, yaitu :
  1. Motivation, pendorong tokoh untuk mencapai tujuan.
  2. Methodology, metode atau cara yang digunakan oleh tokoh untuk mencapai tujuan.
  3. Purpose, tujuan yang ingin dicapai oleh tokoh.
  4. Evaluation, penilaian tentang perkembangan tokoh dalam mencapai tujuan.
Hubungan antara masing-masing tokoh yang terbangun melalui keempat dimensi tersebut, diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu :
  1. Dynamic, hubungan antar tokoh dengan karakter yang berlawanan sehingga dapat meemunculkan konflik karena tujuan dan motivasi yang berbeda.
  2. Companion, hubungan yang terbentuk dengan karakter yang saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain.
  3. Dependent, hubungan yang saling berdiri sendiri dengan karakter yang tidak saling berlawanan namun juga tidak saling melengkapi.
Dari ide cerita kita dapat menuangkannya ke dalam sebuah cerita dengan mudah. Pertama-tama kita akan memasukkannya pada bagian Story Title, yaitu judul cerita yang akan Anda tuangkan. Kemudian berturut-turut kita ketikkan Story Logline, yaitu ringkasan/garis besar cerita baik pada bagian permulaan, tengah maupun pada akhir cerita; Plot Synopsis, yaitu ringkasan alur cerita. Setelah itu Create Your Character untuk menciptakan character-chracter dalam cerita kita, yang bisa terdiri dari nama, peran, deskripsi/gambaran singkat karakter, jenis kelamin dari karakter-karakter dalam cerita.
Untuk membangun cerita, bisa diisi pada bagian Overall Story Goal yang merupakan tujuan inti yang menjadi fokus seluruh karakter dalam cerita. Selanjutnya pada bagian Overall Story Throughline Illustration merupakan ilustrasi tema cerita secara keseluruhan. Kemudian definisikan karakter-karakter dalam cerita, tentukan tema permasalahan antara karakter utama dan karakter lawannya, penyelesaian masalah baik pada karakter utama, menentukan kemampuan karakter utama dalam mengatasi permasalahannya, pendekatan yang dilakukan karakter utama dalam menghadapi permasalahannya, tentukan tipe pemecahann masalah yang sering digunakan karakter utama untuk menghadapi masalahnya. Pada bagian Overall Story Concern merupakan hal-hal yang menjadi perhatian seluruh karakter dalam keseluruhan cerita. Overall Story Outcome digunakan untuk menentukan hasil akhir dari cerita. Pada bagian Overall Story Driven terdapat Overall Story Limit untuk menentukan jenis batasan dalam alur cerita hingga mencapai klimaks cerita.
Pada tahap mengilustrasikan cerita terdapat 4 bagian besar, yaitu Main Character Illustrating, Overall Story Illustrating, Main vs Impack Illustrating dan Impact Character Illustrating. Setiap bagian mencakup subbagian-subbagian yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab seputar cerita, karakter utama, karakter lawan dan permasalahan antara kedua karakter tersebut.
Untuk membuat alur cerita sudah disediakan bagian-bagian sebagai berikut :
  1. Plot Progression, untuk memudahkan dalam membuat, mengevalusasi dan membenahi plot cerita.
  2. Plot Overall, untuk membangun alur cerita secara keseluruhan dari novel.
  3. Plot untuk Main vs Impact, membangun hubungan antara tokoh utama dan tokoh impact.
  4. Plot untuk Main Character, untuk menghidupkan tokoh utama perlu dibangun plot tersendiri untuk tokoh tersebut.
  5. Plot untuk Impact Character, untuk menentukan alur cerita bagi tokoh impact.
  6. Tampilan Jendela Plot Progression untuk Evaluasi, untuk melakukan evaluasi terhadap plot yang telah dibuat.
  7. Menggunakan Story Engine, berisi 24 opsi untuk membentuk sebuah cerita.
Theme Browser pada Dramatica Pro digunakan untuk pembentukan cerita. Pada Theme Browser memilih elemen terlebih dahulu lalu akan muncul daftar-daftar topic yang tersedia lalu kemudian menentukan mana yang akan digunakan. Pendekatan Theme Browser membutuhkan pengenalan dan pemahaman yang mendalam terhadap konsep dan istilah yang digunakan dalam program Dramatica Pro ini sehingga Theme Browser dirokemendasikan untuk pengguna Dramatica Pro tingkat lanjut atau bagi yang sudah menguasai Story Guide, Story Engine atau Query System.

Ramalan Jayabaya

BJudul Buku : Ramalan Jayabaya
Pengarang : S. Marwoto
Penerbit : Pustaka Mahardika
Halaman : 206
ISBN : 979-268-530-8

Prabu Jayabaya adalah raja dari kerajaan Kediri yang paling terkenal. Beliau memerintah antara 1130-1157 M. Pada jamannya, Prabu Jayabaya banyak memberikan dukungan dan sumbangan bagi kesusasteraan dan kebudayaan. Juga terdapat pujangga istana, yakni Empu Sedah yang menggubah Kekawin Baratayuda dan Empu Panuluh yang menulis Kekawin Hariwangsa dan Kekawin Gathotkacasraya.
Ramalan Jayabaya merangkum waktu 2100 tahun rembulan, terbagi dalam 3 jaman besar alias Kali ialah Swara, Yoga dan Sangara.
Ratu Adil yang sangat dinanti-nantikan yang dipercaya bisa membawa perubahan yang lebih baik bagi negeri ini yang sudah diambang kehancuran, ditafsirkan sebagai seorang yang mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Ratu Adil juga mampu menjadi pelindung atau pengayom dari seluruh rakyat tanpa membedakan golongan, tanpa keberpihakan, kecuali hanya berpihak kepada kebenaran hakiki yang bersifat universal. Sulitlah kiranya jika Ratu Adil itu berasal dari salah satu kelompok kepentingan yang dibesarkan oleh kelompok kepentingan itu. Seorang yang dibesarkan oleh suatu partai, tidak berlebihan jika ketika telah berkuasa juga akan memberikan balas budi kepada partai yang membesarkannya. Apa lagi jika partai itu juga dibesarkan oleh sekelompok pengusaha atau sekelompok kepentingan, maka akan terjadi proses balas budi secara berantai yang merupakan sebab awal terjadinya kolusi, manipulasi, korupsi dan nepotisme.
Dalam ramalan Jayabaya, Ratu Adil juga disebut sebagai Ratu Amisan. Kata amisan lebih tepat ditafsirkan sebagai pemimpin yang benar-benar baru tampil, sehingga belum terkontaminasi dengan system percaturan bisnis politik yang sarat dengan berbagai siasat kotor demi kepentingan kelompok dan kekuasaan. Ciri Ratu Adil adalah satriya piningit (ksatria yang tersembunyi) yang ditafsirkan sebagai tokoh baru bagaikan tunjung putih semune pudhak kasungsang / pudhak sinumpet (tokoh yang masih bersih, yang keindahan perangainya bagaikan bunga teratai putih yang wanginya seperti bunga pandan yang masih tersembunyi).
Kata amisan dapat diartikan pula sekali (sepisan) memimpin. Oleh karena itu kata amisan mengandung makna bahwa sang ratu adil itu bukan sosok yang tamak atau haus akan kekuasaan. Seorang ratu adil tidak akan berjuang menghalalkan berbagai cara hanya untuk sekedar mempertahankan atau melanggengkan kekuasaannya.
Ratu Adil itu juga seorang yang mampu sebagai manajer professional negara yang disebut-sebut sebagai natanagara. Natanagara adalah sosok yang mampu mengelola, menyelaraskan serta mempersatukan keberagaman golongan kepentingan dan tingkatan sosial masyarakat sehingga semua kebijaksanaannya akan memuaskan semua lapisan, sehingga dapat dikatakan wadya punggawa sujud sadaya, tur padha rena prentahe (semua pihak taat serta merasa puas terhadap kebijakannya). Jadi sulitlah bila seorang Ratu Adil masih terlibat secara langsung dalam salah satu partai, apalagi menjadi ketua atau penanggungjawab atas jatuh bangunnya partai tersebut.
Ratu Adil Natanegara tidak merasa malas dan juga tidak terlalu bodoh ataupun ceroboh di dalam melakukan pengelolaan Negara secara professional, sehingga tidaklah mungkin menyewakan, menggadaikan, melelang atau menjual asset-aset Negara seperti tambang minyak dan emas demi komisi untuk kepentingan pribadi, partai, kelompok kepentingan atau kroni-kroninya.
Ratu Adil dikenal juga sebagai Herucakra yang berarti payung mustika/lambang pengayoman, persaudaraan serta pelayanan. Herucakra tidak mungkin menempuh money politic untuk mencapai tahtanya.
Selain itu beberapa ramalan Jayabaya yang terjadi saat ini diantaranya adalah :

  • Banyak orang berani melanggar sumpah yang diucapkannya sendiri. Sumpah bukan lagi sesuatu yang sakral. Hukum pun kehilangan supremasinya. Sumpah dianggap sebagai angin lalu yang dengan mudah dibolak-balikkan tergantung kepentingannya. Pejabat bersumpah untuk menegakkan kebenaran dan membela rakyat. Akan tetapi jika kepentingannya terganggu, ia berani berbuat yang melanggar sumpah jabatannya demi nama baik.

  • Hukuman pemimpin tidak adil. Pemegang keadilan sudah tidak berbuat adil lagi. Hukuman memihak kepada yang berkuasa dan berkantong tebal. Pejabat korupsi milyaran dihukum dua bulan atau malah enak-enak tidak dihukum dan masih dapat menikmati kekuasaannya tetapi rakyat maling secangkir beras untuk memberi makan anak istri dihukum dua tahun. Keadilan Ratu Sima tinggal sekedar menjadi dongeng yang seolah tak pernah terjadi. Supremasi hukum yang benar-benar terbebas dari berbagai tekanan hanya utopia. Para Koruptor bahkan sudah berani terang-terangan melakukan perlawanan hukum dengan cara melucuti kewenangan para pemberantasan korupsi dan para hakim yang suka menolong koruptor dan terlibat serta ikut menikmati korupsi juga tidak mau diawasi lagi.

  • Orang yang jelas-jelas salah justru meraih kemenangan dan kesuksesan. Intrik-intrik politik jahatnya mendapatkan ruang leluasa untuk mencapai cita-citanya. Orang yang baik terlempar dari gelanggang. Dunia dipimpin oleh maling, pezina, penipu, penindas, pendurhaka dan koruptor.

  • Kejahatan menjadi-jadi. Kemaksiatan legal di mana-mana, kemunafikan merata di berbagai sisi bisnis dan kenegaraan. Di masyarakat pun angka kriminal menyeruak semakin banyak. Penegak hukum dan kejaksaan yang merupakan pembela kebenaran pun teracuni oleh berbagai kasus suap-menyuap. Dari sini berkembang kemaksiatan dan kemunafikan yang lebih jauh.
Selain ramalan Jayabaya seperti di atas, masih banyak lagi ramalan-ramalan Jayabaya yang telah atau sedang berlangsung di Indonesia saat ini.
Buku ini sangat bagus untuk dibaca, sebagai pengingat bagi diri kita supaya kita tetap ingat kepada Allah SWT. Jadi kekacauan apapun bentuknya yang terjadi di negeri ini, kita bisa menyikapinya dengan lebih tenang.

One Minute Manager

Judul Buku : One Minute Manager
Pengarang : Kenneth Blanchard, Ph.D. & Spencer Johnson, M.D.
Penerbit : Elex Media Komputindo
Halaman : 107
ISBN : 979-637-450-1

Manajer Satu Menit adalah seseorang yang memperoleh hasil-hasil baik tanpa membutuhkan banyak waktu. Manajer Satu Menit membutuhkan waktu yang sangat sedikit untuk mendapatkan hasil-hasil besar dari orang-orang.
Ada tiga rahasia untuk Manajemen Satu Menit, yaitu : Penetapan Sasaran Satu Menit, Pujian Satu Menit dan Teguran Satu Menit.
Apa rahasia dibalik tiga rahasia untuk Manajemen Satu Menit tersebut? Bagaimana sebenarnya Penetapan Sasaran Satu Menit, Pujian Satu Menit dan Teguran Satu Menit itu bisa bekerja dengan baik? Penjelasan untuk ketiga-nya adalah sebagai berikut :
    Penetapan Sasaran Satu Menit
    Penetapan Sasaran Satu Menit sebenarnya adalah :

    • Menetapkan sasaran-sasaran Anda.

    • Melihat seperti apa perilaku yang baik itu.

    • Menulis setiap sasaran Anda pada satu lembar kertas dengan menggunakan kurang dari 250 kata.

    • Membaca dan membaca ulang setiap sasaran yang menuntut kurang lebih hanya satu menit setiap kali Anda melakukannya.

    • Sekali-kali sisihkan satu menit setiap hari untuk melihat apa yang telah Anda laksanakan.

    • Melihat apakah perilaku Anda cocok dengan sasaran Anda atau tidak.
    Pujian Satu Menit
    Pujian Satu Menit akan berhasil baik bila Anda :

    • Mengatakan kepada orang-orang Anda sejak awal bahwa Anda akan memberi tahu mereka bagaimana cara mereka bekerja.

    • Memuji orang dengan segera.

    • Mengatakan kepada orang-orang apa yang mereka lakukan dengan benar, secara spesifik.

    • Mengatakan kepada orang-orang betapa enak perasaan Anda tentang apa yang mereka lakukan dengan benar dan bagaimana hal itu membantu organisasi dan orang-orang lain yang bekerja di sana.

    • Berhenti sebentar untuk memberi mereka waktu “merasakan” betapa enak perasaaan Anda.

    • Menganjurkan mereka untuk melakukan hal yang sama lebih sering lagi.

    • Berjabat tangan atau menyentuh orang-orang dengan cara yang jelas menyatakan bahwa Anda mendukung kesuksesan mereka dalam organisasi.
    Teguran Satu Menit
    Teguran Satu Menit akan berhasil baik bila Anda :

    • Mengatakan sebelumnya kepada orang-orang bahwa Anda akan memberi tahu mereka cara mereka melakukan sesuatu dan dengan kata-kata yang tegas.

    • Menegur dengan segera.

    • Mengatakan apa yang mereka lakukan salah secara spesifik.

    • Mengatakan kepada orang-orang bagaimana perasaan Anda mengenai apa kesalahan yang telah mereka lakukan, dan katakan dengan tegas.

    • Berhenti beberapa detik dalam keheningan yang tidak menyenangkan untuk membiarkan mereka merasakan perasaan Anda.

    • Berjabatan tangan, atau menyentuh mereka sedemikian rupa sehingga mereka tahu Anda secara jujur ada di pihak mereka.

    • Mengingatkan mereka betapa Anda menghargai mereka.

    • Menegaskan kembali bahwa dalam pandangan Anda mereka baik, namun tidak demikian dengan pekerjaan mereka dalam situasi ini.

    • Menyadari bahwa bila teguran selesai, itu benar-benar sudah selesai.

    Membongkar Gurita Cikeas

    Judul Buku : Membongkar Gurita Cikeas
    Pengarang : George Junus Aditjondro
    Penerbit : Galang Press
    Halaman : 183
    ISBN : 978-602-8174-35-0


    Kasus bank Century yang menghebohkan itu disebabkan karena ada tudingan yang menyebutkan bahwa kucuran data talangan untuk Bank Century sebesar Rp 6,7 triliun mengalir ke tim sukses kampanye Partai Demokrat dan Pemenangan SBY-Boedinono pada Pemilu serta Pilpres 2009.
    Selama ini sikap SBY terlihat tidak tegas dalam menyelesaikan suatu masalah, malahan terkesan tebang pilih. Ini tidak sesuai dengan janji SBY saat kampanye dulu. “Katakan tidak pada korupsi”, begitulah slogan yang didengungkan SBY dan tak terkecuali keluarga Cikeas.
    Jika ditelisik satu per satu, keluarga besar Cikeas menguasai pos-pos strategis. Hartanto Edhie Wibowo, adik bungsu Ny. Ani Yudhoyono menjabat sebagai Komisaris Utama PT PowerTel dan Gatot Suwondo, kerabat Ny. Ani Yudhoyono, duduk sebagai Dirut BNI.
    Hartati Murdaya, pemimpin kelompok CCM (Central Cipta Murdaya) dan Boedi Sampoerna, salah satu penerus keluarga Sampoerna, yang notabene nasabah kakap Bank Century adalah penyokong dana kampanye Partai Demokrat. Deposon kelas kakap lainnya adalah PTPN Jambi, Jamsostek dan PT Sinar Mas.
    Ramadhan Pohan, Ketua Bidang Pusat Informasi BAPPILU Partai Demokirat duduk sebagai Pemimpin Redaksi harian Jurnal Nasional dan majalah Arti, serta Wakil Ketua Dewan Redaksi di majalah Eksplo. Sebelum menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Jurnas, Ramadhan Pohan merangkap sebagai Direktur Opini Publik & Studi Partai Politik Blora Center, think tank Partai Demokrat yang mengantar SBY ke kursi presidennya yang pertama. Kalangan pengamat politik di Jakarta mencurigai bahwa dana kelompok Sampoerna juga mengalir ke Blora Center. Karena, sebelum Jurnas terbit, Blora Center menerbitkan tabloid dwi mingguan Kabinet, yang menyoroti kinerja anggota-anggota Kabinet Indonesia Bersatu. Sementara, Ramadhan Pohan baru saja terpilih menjadi anggota DPR-RI dari Fraksi Demokrat, mewakili Dapil VII Jawa Timur (Jurnalnet.com, 25 Feb.2005, Fajar, 21 Juni 2005; ramadhanpohan.com, 14 Okt.2009).
    Penggalangan dukungan politis dan ekonomis bagi SBY dimotori oleh yayasan-yayasan yang beraliasi dengan SBY dan Ny. Ani Yudhoyono. Antara tahun 2005-2006 telah didirikan dua yayasan yang beraliasi ke SBY, yaitu Yayasan Majelis Dzikir SBY Nurussalam yang didirikan tahun 2005 dan berkantor di Tebet, Jakart Selatan, tapi selalu menyelenggarakan kegiatan-kegiatan dzikirnya di Masjid Baiturrahim di Istana Negara; serta Yayasan Kepedulian Sosial Puri Cikeas, disingkat Yayasan Puri Cikeas, yang didirikan tanggal 11 Maret 2006 di kompleks perumahan Cikeas Indah. Kedua yayyasan ini melibatkan sejumlah menteri (ada yang sekarang mantan menteri), sejumlah perwira tinggi, sejumlah pengusaha, serta anggota keluarga besar SBY. Edhi Baskoro Yudhoyono, putra bungsu SBY dan Ny. Ani Yudhoyono, menjabat sebagai salah seorang Sekretaris Yayasan Majelis Dzikir SBY Nurussalam dan Hartanto Edhie Wibowo, adik bungsu Ny. Ani Yudhoyono sebagai salah seorang bendahara.
    Menjelang Pemilu 2009, yayasan penopang kekuasaan SBY bertambah satu : Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian (YKDK), yang dipimpin oleh Arwin Rasyid. Empat orang anggota Dewan Pembinanya sudah masuk ke dalam Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II, yakni Djoko Suyanto, Purnomo Yusgiantoro, Sutanto dan MS Hidayat. Yayasan ini dikelola oleh orang-orang yang punya banyak pengalaman di bidang perbankan. Ketua Umumnya, Arwin Rasyid, Presiden Direktur CIMB Bank Niaga, sedangkan Bendahara Umumnya, Dessy Natalegawa yang merupakan adik kandung Menlu Marty Natalegawa, yang sudah diproyeksikan akan diangkat menjadi Menlu dalam KIB II. Yayasan ini telah mendapat kucuran dana sebesar US$ 1 juta dari Djoko Soegiarto Tjandra, pemilik Bank Bali dan buron kelas kakap BLBI (Vivanews, 2 Okt. 2009; Mimbar Politik, 7-14 Okt 2009: 10-11).
    Yayasan Puri Cikeas, Yayasan Majelis Dzikir SBY Nurussalam dan Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian tidak dipimpin oleh SBY sendiri, tapi oleh orang-orang dari inner circle nya. Pola operasi ke tiganya, memadu kedermawanan dengan mobilisasi dukungan politik dan ekonomi. Ketiga yayasan itu melibatkan sejumlah Menteri dan staf harian Presiden, serta menguasai dana milyaran rupiah. Ketiga yayasan ini telah menelan data yang sebagian mungkin berasal dari anggarann Negara.
    Hartanto Edhie Wibowo, punya ikatan bisnis dengan adik dari M. Hatta Rajasa, Pembina Yayasan Majelis Dzikir SBY Nurussalam, melalui PT Power Telecom (Powertel). Hartanto adalah Komisaris Utama perusahaan itu, dengan Komisaris, Retno Cahyaningtyas, isteri Dirut BNI Gatot Mudiantoro Suwondo. Adik Hatta Rajasa, Achmad Hafisz Tohir, duduk sebagai salah seorang direktur, pakar telematika Roy Suryo Notodiprojo komisaris independent dan Dicky Tjokrosaputro, salah seorang pewaris Batik Keris, direktur utama PT Powertel.
    Perusahaan kongsi keluarga Tjokrosaputro, Hatta Rajasa dan Hartanto Edhie Wibowo mengambil keuntungan dari akumulasi hutang Republik Indonesia kepada Bank Dunia serta pemerintah Jepang dan RRC, sewaktu Hatta Rajasa menjabat sebagai MenteriPerhubungan. Dengan demikian apakah SBY dapat menyangkal bahwa ia penganut pola ekonomi neo-liberalis, yang mendahulukan kepentingan modal besar ketimbang kepentingan rakyat?
    Aspek lain di balik perkongsian Dicky Tjokrosaputro dengan keluarga SBY dan Hatta Rajasa adalah untuk mencari perlindungan terhadap tekanan Bank Mandiri. Melalui PT Hanson International Tbk yang bergerak di bidang pertambangan batubara, tiga bersaudara Benny, Teddy dan Dicky Tjokrosaputro, masih berutang Rp 152,5 milyar kepada Bank Mandiri, yang hanya bagian kecil dari hutang kelompok PT Suba Indah Tbk sebesar Rp 1,28 trilyun kepada bank itu.
    Retno Cahyaningtyas alias Retno Gatot Suwondo, memiliki hubungan kerjasama dengan Okke Hatta Rajasa, dalam kepengurusan Cita Tenun Indonesia (CTI), suatu perkumpulan pencinta tenun, yang dikelola oleh sejumlah menteri dan isteri menteri, seperti Marie LK Pangestu, Meutia Hatta Swasono, Murniati Widodo AS. Okke Hatta Rajasa adalah ketua perkumpulan itu, sedangkan Retno Gatot Suwondo mengkoordinasi Bidang Pemasaran Produk. Pendirian CTI diresmikan langsung oleh Ny. Ani Yudhoyono.
    Selain menjadi petinggi di PT Powertel, adik bungsu Ny. Ani Yudhoyono itu juga dipercayai memangku berbagai jabatan penting dalam Partai Demokrat, sebagai Ketua Departemen BUMN.
    Putra bungsu SBY, Edhie Baskoro Yudhoyono, yang akrab dipanggil “Ibas”, dipercaya menjadi Ketua Departemen Kaderissasi DPP Partai Demokrat. Ibas juga ikut Center for Food, Energy and Water Studies (CFEWS), lembaga yang digagas Heru Lelono, staf khusus Presiden SBY. Ibas juga terjun ke dunia bisnis, khususnya kue kering, dengan menjadi Asisten Direksi PT Gala Pangan (situs kpu.go.id).
    Ny. Ani Yudhoyono, yang aktif membina beberapa yayasan, yang yayasan-yayasan ini diketuai oleh beberapa orang istri Menteri dan pejabat kenegaraan yang lain, yaitu Yayasan Mutu Manikam Nusantara, diketuai Ny. Herawati Wirajuda (istri Menlu waktu itu); Yayasan Batik Indonesia, diketuai Yultin Ginanjar kartasasmita (istri ketua DPD Ginanjar Kartasasmita), dan Yayasan Sulam Indonesia, diketuai oleh Ny. Triesna Wacik, istri Jero Wacik, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, merangkap Ketua Dewan Pembina Yayasan Puri Cikeas.
    Yayasan Batik Indonesia menonjolkan produk perusahaan baru bermerek Allur. Perusahaan ini mengundang perhatian. Pertama, lebih dari selusin gerai perusahaan tellah dibuka di Indonesia, Singapura dan Malaysia, sementara beberapa gerai sedang dirintis di London dan Moscow. Kedua, batik Allur telah mengangkat menantu SBY yang pernah dinobatkan menjadi duta batik Indonesia (Annisa Pohan) dan anaknya (Aira Yudhoyono), sebagai ikon perusahaan itu.
    Para penguasa yang bergerak di bidang produksi dan pemasaran mutu manikam, batik dan sulaman, dapat ikut menikmati promosi yang dibayar dari uang rakyat, dengan berlindung di bawah ketiga paying yayasan yang beraliasi ke Ny. Ani Yudhoyono ini.
    Audit terhadap keuangan yayasan-yayasan itu menjadi semakin penting tidak hanya karena duplikasi, malah dualisme pemerintahan dapat terjadi apabila yayasan-yayasan ini dibiarkan berkembang bebas, seperti yang telah terjadi di masa kediktatoran Soeharto, dengan seribu satu yayasannya.
    Praktik pembelian suara yang dilakukan oleh caleg-caleg Partai Demokrat di berbagai wilayah merupakan salah satu factor kemenangan Partai Demokrat yang begitu fantastis.
    Banyak pelanggaran UU Pemilu yang terjadi selama Pemilu legislatif dan Pilpres lalu. Mulai dari besarnya biaya kampanye yang dikelola oleh tim-tim siluman, pembelian suara lewat pembagian uang dann barang kepada pemilih (termasuk yang dilakukan oleh Edhie Baskoro Yudhoyono), bantuan Negara asing seperti melalui IFES (International Foundation for Electoral Systems), ornop AS yang dibantu oleh USAID, yang dilibatkan oleh KPU dalam proses penghitungan suara, serta penggiringan suara sebagian besar pemilih di Aceh, praktis legalitas hasil Pemilu yang lalu patut dipertanyakan.
    Kemenangan SBY bukan hanya karena kehebatan kharismanya, yang dikemas oleh Fox Indonesia dalam iklan-iklan bernilai jutaan rupiah di media cetak dan elektronik, dibarengi klaim-klaim kesuksesan periode kepresidenannya yang pertama.
    Bagi yang ingin mengunduhnya dalam format eBook, bisa mengunduhnya di sini, eBook – Membongkar Gurita Cikeas.

    Lelaki Terindah

    Judul Buku : Lelaki Terindah
    Pengarang : Andrei Aksana
    Penerbit : Gramedia
    Halaman : 215
    ISBN : 979-22-0815-1, 978-979-22-0815-3

    Ini adalah cerita tentang cinta yang terlarang, cinta sesama jenis, cinta antara seorang pria dengan pria lainnya. Cinta yang terlarang, seperti virus yang tidak pernah bisa dibasmi. Kisah cinta yang disingkirkan masyarakat. Cinta yang sebenarnya terjadi tetapi selalu diingkari.
    Pertemuan antara Rafky dan Valent terjadi secara tidak sengaja di dalam pesawat yang akan membawa mereka berlibur ke Bangkok. Saat itu Rafky yang tampan dengan tubuh tinggi atletis dan dada bidang, dengan mata yang gemerlap seperti telaga berkilauan tertimpa sinar matahari, sedang terburu-buru mengejar pesawat yang akan membawanya ke Bangkok. Hampir saja dia tertinggal pesawat. Unntung saja dia masih diperbolehkan untuk masuk ke dalam pesawat yang sudah akan berangkat. Ketika sedang mencari kompartemen penyimpanan barang karena diatas kursinya kompartemen penyimpanan barang telah penuh, Rafky melihat bahwa kompartemen di lima baris kursi di depan masih tersisa sedikit celah, cukup untuk memasukkan ranselnya. Ia lalu menuju ke situ. Tanpa sadar, ketika sedang mengangkat ranselnya, pada saat yang bersamaan, penumpang yang duduk di bawahnya beranjak bangkit.
    Bahu mereka berbenturan. Tidak terlalu keras. Penumpang yang semula ingin berdiri langsung terduduk kembali di kursinya dan menunjukkan penyesalan pada pias wajahnya. Rafky melirik tak acuh kearah pemuda itu. Pemuda itu berwajah tampan. Penampilannya menarik, gaya anak muda sekarang.
    Penerbangan itu transit di Singapura selama tiga puluh menit. Waktu itu digunakan Rafky untuk berjalan-jalan berkeliling di sekitar terminal kedatangan. Di setiap toko yang disinggahinya, Rafky selalu perpapasan dengan pemuda yang membenturnya di pesawat, tapi Rafky tidak mengacuhkannya. Namun, karena berselisih arah beberapa kali, membuat Rafky mulai hafal wajah pemuda itu.
    Parasnya yang rupawan, alur yang membentuk hidung, bibir dan dagunya demikian menawan. Terlalu halus untuk laki-laki. Ketampanannya berbaur dengan kelembutan. Postur tubuhnya ideal, tapi fisiknya tampak lemah dan rapuh. Bulu matanya panjang dan lentik hampir menutupi seluruh kelopak matanya, tapi tak mampu menutupi getar kesedihan di sana.
    Lamunan Rafky tersentak ketika ada panggilan agar seluruh penumpang untuk penerbangan ke Bangkok segera berkumpul di ruang boarding. Ketika Rafky berada di ruangan itu ternyata seluruh bangku sudah terisi penuh. Pemuda itu sudah duduk di situ terlebih dahulu dan sekali lagi tatapan mereka bertabrakan. Pemuda itu menunjukkan bangku kosong yang ada di hadapannya. Rafky membalas senyum pemuda itu dan mulai menjatuhkan tubuhnya duduk di depan pemuda itu. Pemuda itu memperkenalkan dirinya sebagai Valent.
    Di dalam pesawat ketika Rafky sedang mencari-cari bukunya, Valent menawarkan Rafky untuk duduk di kursi sebelahnya karena kebetulan kursi tersebut kosong, sehingga Rafky akan lebih mudah mencari barang di dalam ranselnya yang diletakkan di kompartemen di atas tempat duduk itu. Rafky pun menerima tawaran tersebut.
    Ketika pramugari datang menghidangkan makanan, tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan, ketika Rafky akan memberikan gelas dari pramugari ke Valent. Mereka sama-sama terkejut dan cepat-cepat saling menjauhkan tangan.
    Perubahan wajah Valent membuat Rafky terpesona. Getar aneh merayapi hatinya. Rafky mulai menyukai melihat pemuda ini. Meski tak mau, meski tak ingin. Detik itu juga Rafky langsung memaki dirinya habis-habisan. Ia laki-laki normal! Tak mungkin tertarik dengan sesama jenis!
    Ketika perbangan telah tiba di Bandar udara Don Muang, Bangkok, Valent menawarkan Rafky untuk tinggal di tempatnya, karena memang Valent tinggal seorang diri.
    Kebersamaan Valent bersama Rafky selama menjelajahi Bangkok telah mengisi sebelah rongga hati Valent yang dulu hampa, kini telah mereguk harapan dan semangat dari curahan hujan kasmaran. Setetes demi setetes, seteguk demi seteguk, membebaskan dahaga yang dulu terpenjara.
    Di suatu pagi Rafky mengajak Valent untuk berolahraga, lari pagi. Rafky mengajak Valent untuk adu lari. Tapi baru kira-kira tiga putaran, Valent sudah tidak kuat dan meminta untuk istirahat. Menyenangkan sekali pagi itu. Tapi pada malam harinya Valent demam. Badannya panas tinggi dan menggigil. Dan pada saat itulah Rafky tahu bahwa Valent mengidap penyakit diabetes mellitus. Melihat kondisi Valent seperti itu Rafky panik. Tapi Valent berusaha untuk menenangkannya dan mengatakan bahwa hal itu sudah biasa. Valent minta tolong untuk diambilkan obat yang ada di kotak obat yang berada dalam tasnya. Valent minta pada Rafky untuk menyuntikkan insulin ke tubuh Valent. Rafky melakukannya dengan rasa gemetar.
    Setelah itu terjadilah hal yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Rafky bercinta dengan Valent, karena Rafky tidak kuasa menolak rayuan Valent. Akhirnya malam itu merupakan malam yang indah bagi Rafky dan Valent. Mereka melepaskan rasa cinta mereka.
    Pagi harinya, ketika Rafky terbangun dari tidur, dia merasa kaget dan merasa jijik pada dirinya sendiri. Mengapa hal itu bisa terjadi? Mengapa Rafky bisa bercinta dengan sesama jenis? Padahal dia merasa sebagai pria yang normal, pria yang masih menyukai wanita. Rafky bergegas menuju kamar mandi dan mandi. Dengan rasa marah dan air yang masih menetes di tubuhnya dia keluar meninggalkan penginapan, meninggalkan Valent yang merasa hancur hatinya melihat perubahan sikap Rafky. Namun Valent tidak bisa berbuat apa-apa.
    Dalam pelariannya itu Rafky berusaha untuk membuktikan bahwa dia masih laki-laki yang normal. Dia berusaha untuk mencari wanita di tempat hiburan. Namun hal itu ternyata tidak membawa perubahan apa-apa. Justru semakin hari Rafky merasa bahwa dia makin mencintai Valent. Akhirnya dia pun kembali ke penginapan, kembali ke Valent.
    Ketika mereka kembali ke Jakarta, kejadian demi kejadian mewarnai kisah cinta mereka yang memang terlarang. Mereka berusaha untuk menjalankan kencan ganda. Mereka pergi menonton bersama dengan pasangan masing-masing. Tetapi setelah acara menonton tersebut, setelah mereka mengantarkan pasangan masing-masing pulang, mereka pun bertemu kembali dan saling melepaskan rasa sayang mereka. Sampai akhirnya suatu hari, karena merasa tidak tahan harus selalu sembunyi-sembunyi, Rafky mengakui pada Rhea, kekasihnya, bahwa dia mencintai Valent. Karena merasa bahwa Rhea tidak mampu untuk ‘merebut’ Rafky dari Valent untuk kembali padanya, Rhea lalu menangis di hadapan kedua orang tua Rafky dan menceritakannya pada orang tua Rafky. Betapa hancur hati kedua orang tua Rafky. Sampai akhirnya Rafky memutuskan untuk hidup berpisah dengan orang tuanya dengan menyewa sebuah apartemen yang letaknya jauh dari rumahnya.
    Begitu juga dengan Valent. Hubungannya dengan Kinan, calon istrinya, terpaksa harus berakhir, walaupun bereka akan segera menikah. Valent mengatakan pada Kinan bahwa ia tidak bisa menikahi Kinan karena Valent mencintai Rafky. Diluar dugaan ternyata Kinan bisa mengerti dan dengan rela melepaskan Valent. Tapi masalah terbesar justru timbul dari ibu Valent yang tidak bisa menerimanya. Ibu Valent ngotot bahwa pernikahan itu harus tetap berjalan dan menganggap cinta Valent pada Rafky itu adalah cinta yang terlarang. Sejak saat itu semua aktivitas Valent pun dibatasi untuk menghindari bertemunya Valent dengan Rafky.
    Ketika ada kesempatan, Valent berkunjung ke apartemen Rafky, walaupun hanya pertemuan yang singkat. Rafky mengajak Valent untuk lari dan mulai merajut kehidupan baru berdua. Valent menjadi bimbang untuk memilih antara ibunya dan Rafky karena keduanya menjanjikan cinta. Valent merasa berat kalau harus meninggalkan ibunya untuk mengikuti Rafky, karena selama ini Valent sangat bergantung pada ibunya. Ibunya yang selalu merawatnya karena penyakit diabetes mellitus yang di-idapnya. Dilain sisi, Valent juga tidak mau kehilangan Rafky karena Rafky adalah satu-satunya pria yang sangat dicintainya.
    Ternyata hal itu justru mengakibatkan menurunnya kondisi Valent. Valent jadi tidak mau makan dan selalu merasa sedih. Akhirnya kesehatannya langsung drop sehingga ia harus dibawa ke rumah sakit oleh ibunya.
    Ketika di rumah sakit, Rafky memaksa untuk masuk ke kamar Valent untuk menemui Valent, walaupun sudah dihalang-halangi oleh ibu Valent. Ibu Valent merasa bingung, bagaimana Rafky bisa tahu bahwa Valent ada di rumah sakit. Apakah Kinan yang memberitahukannya? Tapi bagaimanapun juga ibu Valent melarang dengan keras Rafky untuk bertemu Valent. Rafky juga memohon pada ibunya untuk men-support dirinya, dengan datang ke rumah sakit itu juga.
    Akhirnya Rafky bisa masuk ke kamar Valent dan bertemu dengan Valent. Betapa gembiranya Valent bisa bertemu Rafky. Disitu ibu Valent bisa melihat kisah cinta mereka. Betapa Rafky sangat mencintai Valent dan begitu pula sebaliknya.
    Setelah beberapa hari Rafky menjenguk Valent, kesehatan Valent berangsur-angsur membaik. Hingga oleh dokter Valent diizinkan untuk pulang ke-esokan harinya. Semua merasa lega dan gembira. Tetapi ibu Valent tetap menginginkan pernikahan Valent dan Kinan tetap dilangsungkan. Ibu Valent tidak melihat perubahan pada wajah Valent ketika ibunya selesai mengucapkan hal tersebut. Seolah-olah api yang semula berkobar-kobar di wajah Valent kini sudah redup kembali.
    Ke-esokan harinya ketika ibu Valent, ibu Rafky, Rafky dan Kinan datang ke rumah sakit untuk menjemput Valent, ibu Valent bersikeras Rafky tidak boleh masuk ke kamar Valent. Tetapi Rafky tetap memaksa dan masuklah Rafky ke kamar Valent. Tetapi begitu Rafky masuk ke kamar Valent, langsung Rafky berteriak histeris memanggil-manggil nama Valent. Ternya di tempat tidur Valent sudah terbujur kaku tanpa nyawa. Langsung saja ibu Valent, ibu Rafky dan Kinan pun berlari masuk ke kamar Valent dan mendapati tubuh Valent sudah tidak bergerak. Rafky lalu mengguncang-guncang tubuh Valent berusaha membangunkannya, lalu menciumi seluruh wajah Valent tetapi Valent tidak bergerak sama sekali. Ibu Valent berteriak histeris. Suasana pun menjadi semakin gaduh sehingga datang dokter Julian, dokter yang selama ini merawat Valent di rumah sakit untuk segera memeriksa Valent. Dokter Julian pun akhirnya mempertegas bahwa Valent sudah tiada.
    Valent bagi Rafky adalah cinta pertamanya pada seorang laki-laki. Begitu pula sebaliknya. Valent adalah pria yang terindah bagi Rafky ….

    Daddy Long Legs

    Judul Buku : Daddy Long Legs
    Pengarang : Jean Webster
    Penerbit : Penerbit Atria
    Halaman : 235
    ISBN : 978-979-1411-83-7

    Hari Rabu pertama dalam setiap bulan merupakan hari paling menyebalkan karena semua disibukkan oleh aktivitas bersih-bersih untuk mempersiapkan kunjungan dewan pengawas dan komite panti asuhan John Grier. Jerusha Abbot, sebagai anak yatim tertua, harus membersihkan semua noda pada perabotan. Selain itu dia juga harus mempersiapkan anak-anak yatim khususnya di ruang F, yang merupakan tanggung jawabnya.
    Namun ternyata hari itu merupakan hari yang penuh berkat bagi Jerusha juga. Setelah acara kunjungan itu berakhir, ia dipanggil oleh ibu pengurus, Mrs Lippet, yang mengabarkan bahwa salah satu anggota dewan pengawas yang sangat berpengaruh akan menyekolahkan Jerusha ke perguruan tinggi. Sebelum masuk ke ruang Mrs Lippet, Jerusha hanya sempat menangkap bayangannya, sekilas, dan kesan yang dia dapatkan adalah pria itu sangat tinggi. Pria itu melambaikan tangan kearah mobil yang sedang menunggu di jalan melingkar di depan teras. Saat kendaraan itu bergerak dan mendekat, lampu depannya menyorot kearah pria itu dan membuat bayangan jelas di dinding bagian dalam rumah. Bayangan itu memiliki tungkai kaki dan lengan yang sangat panjang, yang menjulur di sepanjang lantai dan terus merambati dinding koridor. Bentuknya mirip seekor laba-laba raksasa yang bergoyang-goyang, laba-laba berkaki panjang yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai daddy-long-legs.
    Sebelumnya Tuan Dermawan itu hanya memberikan beasiswa pada anak laki-laki saja. Ia tidak pernah tertarik untuk menyantuni anak-anak perempuan. Bisa dikatakan bahwa dia tidak peduli pada anak-anak perempuan. Namun karena prestasi Jerusha dalam berbagai bidang di sekolah sangat bagus dan esai yang dibuat Jerusha yang bertajuk ‘Rabu Kelabu’ mendapat pujian dari gurunya, akhirnya membuat Tuan Dermawan itu menawarkan untuk mengirim Jerusha ke perguruan tinggi, dengan beberapa syarat yang aneh. Pria itu berencana untuk mendidik Jerusha menjadi seorang penulis. Tuan Budiman itu tidak mau diketahui identitasnya. Jerusha hanya bisa mengenalnya sebagai Mr John Smith.
    Selama kuliah di perguruan tinggi, Jerusha akan mendapat biaya hidup dan uang sekolah yang akan langsung dibayarkan ke pihak perguruan tinggi. Selain itu ia akan menerima uang jajan sebesar tiga puluh lima dollar setiap bulan yang akan dikirimkan melalui sekretaris pribadi tuan budiman tersebut sekali sebulan. Sebagai bayarannya, Tuan Budiman tersebut meminta Jerusha harus menulis sepucuk surat laporan sekali sebulan. Isi surat tersebut bukan untuk mengucapkan terima kasih atas uang itu tapi berisi laporan kemajuan yang telah dicapai di sekolah beserta detail kehidupannya sehari-hari. Surat tersebut ditujukan ke sekretaris pribadi Tuan Budiman yang bernama Mr Griggs dan surat-surat tersebut tidak akan pernah dibalas ataupun akan diperhatikan.
    Setelah Jerusha masuk ke perguruan tinggi, mulailah ia berkorespondensi dengan Si Tuan Budiman sesuai dengan kewajiban yang diminta pria tersebut. Jerusha pun menceritakan kehidupannya selama di perguruan tinggi, pelajaran-pelajarannya, pesta-pesta di sekolah, acara-acara liburannya, persahabatannya dengan teman-teman barunya dan persahabatannya dengan paman Julia, salah satu teman sekamar Jerusha, yang bernama Jervis Pendleton yang sangat tampan.
    Jerusha sangat bersemangat belajar di perguruan tinggi karena itu merupakan pengalaman baru baginya di luar panti asuhan. Selama ini ia tidak pernah tahu tentang dunia di luar panti asuhan.
    Di ceritakan bahwa Jerusha, yang kemudian mengganti namanya menjadi Judy, yang seorang anak yatim piatu, sedang berusaha sekuat tenaga untuk mencapai cita-citanya dan berusaha keras agar dapat hidup mandiri, tanpa bantuan orang lain, bagaimana pun beratnya perjalanan yang harus ditempuh. Walaupun sebenarnya daddy-long-legs sangat menyayanginya dan memanjakannya dengan uang dan berbagai macam hadiah, namun Judy berusaha untuk tidak terlena dengan kemanjaan yang diberikan oleh daddy-long-legs.
    Judy malahan berusaha untuk bisa memenangkan beasiswa tanpa sepengetahuan daddy-long-legs. Ketika akhirnya Judy berhasil memenangkan beasiswa dan mengabarkan kabar suka cita tersebut pada daddy-long-legs, walinya, ternyata walinya itu malah meminta Judy untuk membatalkannya. Hal itu malah membuat Judy merasa sangat kecewa akan keputusan walinya itu. Tetapi Judy bersikeras untuk tetap mengambil beasiswanya itu.
    Mr. Jervis Pendleton, paman Julia, juga memberikan perhatian yang besar pada Judy. Ia mengajak Judy berpetualang saat Judy sedang liburan di Lock Willow, peternakan yang dahulu milik Mr Jevis Pendleton, lalu kemudian peternakan itu diberikannya kepada Mr dan Mrs Sempleton, pengasuh Mr Jervis sewaktu kecil. Bahkan Mr, Jervis juga pernah mengajak Judy untuk berlibur ke Eropa, ke Perancis, tetapi Judy menolaknya. Judy malahan memilih untuk bekerja sebagai pengajar di masa liburannya. Hal itu sebenarnya membuat Mr. Jervis marah. Tetapi Judy tetap bersikeras untuk bekerja sebagai pengajar bagi dua orang anak perempuan pada sebuah keluarga kenalan Mrs. McBride, ibu Sallie.
    Hingga akhirnya Judy lulus dan sangat mengharapkan daddy-long-legs untuk hadir sebagai satu-satunya ‘keluarga’ yang dia miliki. Namun kenyataannya daddy-long-legs tidak hadir. Betapa kecewanya Judy. Namun Judy harus menerimanya. Setelah lulus, Judy pun tinggal di Lock Willow sambil meniti karir nya sebagai penulis.
    Suatu hari, Mr Jervis Pendleton melamar Judy dan memintanya untuk menjadi istrinya. Namun Judy merasa bingung dan menolak lamaran tersebut. Judy merasa bingung karena ia merasa tidak pantas menjadi istri Mr Jervis yang datang dari keluarga yang sangat kaya dan terhormat sedangkan Judy hanya seorang anak yatim piatu yang tidak jelas asal usulnya. Judy takut mengecewakan Mr Jervis karena menikah dengannya. Sejak saat itu Judy tidak pernah mendengar kabar lagi tentang keberadaan Mr Jervis.
    Hingga akhirnya dating sepucuk surat dari Julia yang mengabarkan bahwa pamannya, Jervis, sedang sakit parah. Ia terjebak badai semalam penuh, ketika sedang berburu di Kanada dan sejak itu pamannya itu terserang radang paru-paru.
    Datang pula sepucuk surat dari daddy-long-legs, walinya, yang mengabarkan bahwa ia sedang sakit keras dan ingin agar Judy mengunjunginya. Betapa senangnya Judy karena akhirnya ia bisa bertemu dengan walinya itu. Akhirnya sesuai dengan janji yang telah disepakati, maka Judy berangkat menuju rumah walinya itu. Betapa terkejutnya Judy ketika ia tiba di rumah walinya, ternyata walinya itu adalah Mr. Jervis Pendleton! Judy dibuat terpana oleh keadaan ini, karena Judy tidak pernah mengira sebelumnya bahwa Mr. Jervis Pendleton itu adalah daddy-long-legs nya. Dengan tertawa Mr. Jervis mengulurkan tangannya ke Judy.
    Betapa bahagianya Judy. Karena ia ternyata bertemu dengan walinya sekaligus kekasihnya, Mr. Jervis Pendleton.
    Cerita buku ini telah diangkat ke layar lebar pada tahun 1955 dan juga telah diangkat ke film animasi Jepang dengan judul yang sama. Bahkan kabarnya film animasi Jepangnya pernah mendapat penghargaan. Untuk keterangan lengkapnya bisa dilihat pada website Wikipedia.
    Bagi yang ingin meng-unduh film animasi Jepangnya, bisa meng-unduhnya di website anime Daddy Long Legs.
    Semoga bermanfaat.

    Who Moved My Cheese?

    Judul Buku : Who Moved My Cheese?
    Pengarang : Spencer Johnson, M.D.
    Penerbit : PT. Elex Media Komputindo
    Halaman : 105
    ISBN : 979-20-2425-5


    Who Moved My Cheese? adalah kisah tentang perubahan yang terjadi dalam sebuah Labirin dimana empat tokoh sangat menarik pergi mencari “Cheese”. Cheese disini adalah perumpamaan akan hal-hal yang kita inginkan di dalam hidup ini, baik pekerjaan, hubungan baik, uang, pengakuan, ketentraman batin atau bahkan kegiatan seperti lari pagi atau golf.
    Empat tokoh imajiner dalam cerita ini yaitu :
    Si tikus : “Sniff (Endus)” – yang mampu mencium adanya perubahan dengan cepat
    Scurry (Lacak)” – yang segera bergegas mengambil tindakan
    Si kurcaci : “Hem (Kaku)” – yang menolak serta mengingkari adanya perubahan karena takut perubahan akan mendatanngkan sesuatu yang buruk
    Haw (Aman)” – yang baru mencoba beradaptasi jika ia melihat perubahan mendatangkan sesuatu yang lebih baik
    Keempat tokoh tersebut mewakili bagian dari diri kita, yang sederhana dan rumit. Kita akan lebih beruntung jika kita bertindak secara sederhana dalam menghadapi perubahan.
    “Labirin” mewakili tempat dimana Anda menghabiskan waktu untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan. Bisa jadi berupa perusahaan dimana Anda bekerja, lingkungan masyarakat dimana Anda tinggal, atau hubungan baik yang telah Anda bina sampai saat ini.
    Dalam cerita ini akan ditemukan bahwa kedua ekor tikus lebih bisa menghadapi perubahan yang terjadi, karena mereka tidak memperumit permasalahan. Sedangkan kedua otak canggih dan emosi manusiawi para kurcaci mempersulit keadaan yang ada. Hal ini bukan karena tikus lebih pintar dari manusia.
    Ceritanya adalah sebagai berikut :
    Suatu ketika di zaman dulu, hidup empat tokoh yang berlarian di dalam labirin mencari cheese untuk kesejahteraan dan kebahagiaan mereka.
    Dua diantaranya adalah tikus yang bernama “Sniff” dan “Scurry”, dua lainnya adalah kurcaci sebesar tikus yang berpenampilan dan bertingkah laku sama seperti manusia pada saat ini. Namanya adalah “Hem” dan “Haw”.
    Karena ukuran mereka yang kecil, dengan mudah terlewatkan apa yang sedang mereka lakukan. Namun jika kita lihat lebih dekat, Anda akan menemukan hal yang sangat luar biasa!
    Setiap hari tikus dan kurcaci tersebut menghabiskan waktu mereka di dalam labirin mencari cheese kesukaan mereka.
    Tikus-tikus, Sniff dan Scurry, yang hanya mampu berpikir sejauh otak binatang pengerat itu berpikir namun dikaruniai naluri yang baik, mencari cheese keras berlubang-lubang sama seperti yang dilakukan tikus-tikus lainnya.
    Sementara itu kedua kurcaci, Hem dan Haw, menggunakan otak mereka, yang dipenuhi dengan berbagai dogma dan emosi, mencari Cheese yang berbeda, yaitu Cheese dengan C besar, yang mereka percaya sebagai pembawa kebahagiaan dan kesuksesan.
    Namun meskipun berbeda, kurcaci dan tikus mempunyai hal-hal yang sama : Setiap pagi masing-masing akan mengenakan pakaian jogging dan sepatu lari mereka, meninggalkan rumah kecil mereka, berlomba lari menuju labirin mencari cheese favorit mereka.
    Labirin tersebut terdiri dari lorong panjang berkelok-kelok dan ruang-ruang yang beberapadiantaranya berisi cheese yang lezat. Namun demikian ada pula sudut-sudut gelap dan jalan tak bertuan yang menyesatkan. Sehingga mudah sekali bagi siapa saja tersesat di dalamnya.
    Sementara itu, bagi mereka yang telah menemukan jalan, terdapat rahasia-rahasia yang membuat mereka bisa hidup senang.
    Tikus-tikus, Sniff dan Scurry, menggunakan metode trial and error dalam mencari cheese. Mereka berlari ke satu lorong dan jika ternyata kosong, mereka akan berbalik dan mulai mencari di lorong yang lain. Mereka mengingat lorong mana saja yang tidak menyimpan cheese dan dengan cepat pindah ke daerah lain.
    Sniff bertugas melacak jejak cheese dengan mengendus-endus menggunakan hidungnya yang hebat, sedang Scurry yang akan berlari terlebih dulu. Seperti dugaan Anda, mereka pernah juga salah arah dan sering menabrak tembok. Namun tak lama kemudian mereka akan menemukan kembali jalan yang benar.
    Sama seperti tikus, kedua kurcaci, Hem dan Haw, juga menggunakan kemampuan berpikir dan belajar dari pengalaman mereka. Namun mereka bergantung pada otak mereka yang kompleks dalam mengembangkan metode menemukan Cheese.
    Kadang mereka berhasil, namun sering kali kepercayyaan dan emosi manusiawi mereka yang kuat mengambil alih dan mengaburkan cara mereka melihat suatu permasalahan. Hal itu menyebabkan hidup di labirin menjadi semakin rumit dan penuh tantangan.
    Walaupun begitu mereka semua, Sniff, Scurry, Hem dan Haw menemukan dengan cara masing-masing dalam mencari apa yang mereka inginkan. Pada suatu hari, mereka menemukan cheese kesukaan mereka di salah satu ujung lorong Cheese Station C.
    Setelahh itu, setiap pagi para tikus dan kurcaci segera memakai perlengkapan lari mereka dan langsung berlari menuju Cheese Station C. Tak lama kemudiian hal itu menjadi kegiatan rutin mereka.
    Sniff dan Scurry tetap dengan kebiasaan bangun pagi mereka dan langsung berlari ke dalam labirin, dan selalu mengikuti rute yang sama.
    Begitu sampai di tujuan, mereka menanggalkan sepatu lari dan mengikat kedua talinya, lalu mengalungkannya di leher sehingga memudahkan mereka memakainya saat memerlukannya nanti. Kemudian mereka menikmati cheese.
    Pada awalnya Hem dan Haw juga berlarian ke Cheese Station C setiap pagi untuk menikmati potongan Cheese baru yang lezat yang telah menunggu mereka.
    Namun setelah beberapa saat kebiasaan para kurcaci berubah. Sekarang, Hem dan Haw bangun sedikit lebih siang, berpakaian sedikit lebih lama dan kemudian baru berjalan ke Cheese Station C. Sekarang mereka sudah tahu dimana letak Cheese Station C dan jalan menuju ke sana.
    Mereka tidak tahu dari manna datangnya Cheese itu dan siapa yang menempatkannya disana. Mereka hanya berasumsi bahwa Cheese itu pasti ada disana.
    Setiap pagi, begitu Hem dan Haw sampai di Cheese Station C, mereka segera masuk dan berlaku seolah-olah di rumah sendiri. Mereka menggantung pakaian lari, melepas sepatu dan menggantikannya dengan sandal. Mereka merasa sangat nyaman saat ini karena telah menemukan Cheese.
    “Ini luar biasa,” kata Hem. “Tersedia cukup banyak Cheese untuk kita selamanya.” Kurcaci-kurcaci itu merasa bahagia dan sukses, serta berpikir bahwa sekarang mereka sudah aman.
    Segera sesudah itu Hem dan Haw menganggap Cheese yang mereka temukan di Cheese Station C adalah milik mereka. Tempat itu seperti toko Cheese yang luas dan mereka pun segera memindahkan rumah mereka lebih dekat ke sana dan mulai membangun kehidupan social di sekitarnya.
    Supaya lebih nyaman, Hem dan Haw menghias dinding-dinding tempat itu dengan berbagai pepatah bahkan menggambar gambar Cheese di sekelilingnya yang membuat mereka tersenyum. Salah satunya tertulis :
    Memiliki Cheese membuat Anda bahagia.
    Kadang, Hem dan Haw mengundang teman-teman mereka untuk mengagumi tumpukan Cheese di Cheese Station C. Sambil menunjuk ke tumpukan itu dengan bangga, mereka berkata, “Cheese yang cantik, bukan?” Terkadang mereka membagikannya kepada rekan mereka, tapi kadang juga tidak.
    “Kami berhak mendapatkan Cheese ini,” kata Hem lagi. “Kami harus bekerja keras dan lama untuk menemukannya.” Ia mengambil sepotong kecil Cheese segar lalu memakannya.
    Setelah itu Hem pun tertidur, seperti kebiasaannya. Setiap malam para kurcaci berjalan perlahan menuju tempat tinggal mereka dengan membawa tumpukan penuh Cheese, dan paginya dengan yakin mereka akan kembali lagi untuk mengambil lebih banyak lagi.
    Hal itu berjalan sampai beberapa saat. Dalam waktu singkat keyakinan Hem dan Haw pun berubah menjadi kesombongan akan keberhasilan mereka. Segera mereka terjebak dalam kenyamanan sehingga tidak menyadari apa yang sedang terjadi.
    Sementara waktu berlalu. Sniff dan Scurry tetap melakukan kegiatan rutin mereka. Mereka tiba pagi-pagi sekali, mengendus, mencakar dan melacak daerah sekitar Cheese Station C, mereka melihat apakah ada perubahan yang terjadi dibandingkan kemarin. Baru kemudian mereka duduk dan memakan cheese.
    Suatu pagi mereka tiba di Cheese Station C dan melihat tidak ada lagi cheese di sana. Mereka tidak heran sama sekali. Karena Sniff dan Schurry sudah memperhatikan bahwa simpanan cheese tersebut semakin hari semakin menipis belakangan ini. Mereka sudah siap dengan keadaan ini, dan secara insting tahu apa yang harus mereka lakukan.
    Mereka saling melihat, melepaskan sepatu lari yang mereka ikat dan digantungkan di leher, kemudian mengenakannya, lalu mengencangkan tali pengikatnya. Tikus tidak melakukan analisis yang berlebihan. Bagi tikus, masalah dan pemecahannya sama sederhananya. Situasi di Cheese Station C sudah berubah. Maka Sniff dan Scurry memutuskan untuk berubah juga.
    Mereka berdua mencarinya kembali di dalam labirin. Sniff pun mulai mengangkat hidungnya, mengendus dan menganggukan kepalanya kearah Scurry, yang dengan cepat segera berlari masuk ke dalam labirin sementara Sniff mengikutinya dari belakang secepat ia bisa. Dengan cepat mereka berangkat untuk mennemukan Cheese baru.
    Siangnya, masih pada hari yang sama, Hem dan Haw tiba di Cheese Station C. Mereka tidak memperhatikan perubahan-perubahan kecil yang terjadi setiap hari, sehingga mereka merasa yakin bahwa Cheese mereka pasti ada di sana. Mereka tidak siap menghadapi kenyataan di depan mereka.
    “Apa?! Tidak ada Cheese?!” teriak Hem. Kemudian ia terus berteriak-teriak, “Tidak ada Cheese? Tidak ada Cheese?” seolah-olah jika ia berteriak sekeras mungkin seseorang bakal menngembalikan Cheese-nya.
    Who Moved My Cheese?” teriaknya. Akhirnya, sambil berkacak pinggang, wajahnya berubah merah padam, ia pun meraung keras sekali, “Ini tidak adil!”.
    Haw hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Ia pun juga merasa yakin pasti menemukan Cheese di Cheese Station C. Ia berdiri di sana lama sekali, terpaku karena terguncang. Ia samma sekali tidak siap menghadapi hal ini.
    Hem meneriakkan sesuatu, namun Haw tidak ingin mendengarkannya. Ia tidak mau menghadapi apa yang sedang terjadi, ia pun berusaha menyingkirkannya.
    Tindakan para kurcaci sangat tidak menarik dan tidak produktif namun bisa dipahami.
    Menemukan Cheese bukan pekerjaan mudah dan bagi para kurcaci lebih besar lagi artinya dibandingkan dengan hasil yang hanya bisa dimakan setiap hari.
    Menemukan Cheese adalah cara memenuhi pemikiran mereka bahwa mereka berhak untuk bahagia. Bagi para kurcaci Cheese mempunyai arti lebih, tergantung dari rasanya.
    Bagi sebagian dari mereka, menemukan Cheese berarti menemukan hal-hal yang bersifat material, bagi yang lainnya bisa berupa hidup sehat atau mencapai kepuasan spiritual.
    Bagi Haw, menemukan Cheese berarti menemukan rasa aman, mempunyai keluarga yang saling mencintai suatu hari nanti dan tinggal di rumah yang nyaman di Cheddar Lane.
    Sedangkan bagi Hem, Cheese akan menjadi Cheese Besar (alat pengaruh) yang digunakannya untuk mempengaruhi orang lain dan untuk memiliki rumah besar di daerah elit, Camembert Hill.
    Karena Cheese sangat berarti bagi mereka, kedua kurcaci tersebut memerlukan waktu yang lebih lama untuk memutuskan apa yang harus mereka lakukan. Hal yang bisa mereka pikirkan hanyalah tetap mencari-cari di sekitar Cheese Station C untuk memastikan bahwa Cheese tersebut memang benar-benar sudah lenyap.
    Sementara Sniff dan Scurry bergerak dengan cepat. Hem dan Haw hanya mengomel dan termenung-menung saja.
    Mereka mengutuk dan memprotes ketidakadilan yang terjadi. Haw merasa sangat tertekan. Apa yang akan terjadi jika besok pun tidak ada Cheese disini? Ia harus membuat rencana ke depan berdasarkan kejadian Cheese ini.
    Para kurcaci masih belum percaya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Tak ada satu orang pun yang memberi peringatan kepada mereka. Ini tidak benar. Hal ini tidak biasanya terjadi.
    Malam itu Hem dan Haw pulang ke rumah dalam keadaan lapar dan gundah. Namun sebelum mereka pergi, Haw menulis di dinding :
    Semakin Penting Arti Cheese bagi Anda Semakin Ingin Anda Mempertahankannya.
    Keesokan harinya Hem dan Haw meninggalkan rumah mereka dan kembali ke Cheese Station C lagi, dengan harapan siapa tahu, bisa menemukan Cheese mereka.
    Situasinya tidak berubah. Cheese itu sudah tidak ada lagi di sana. Para kurcaci tidak tahu harus berbuat apa. Hem dan Haw hanya berdiri saja di sana, seperti dua buah patung.
    Haw menutup matanya rapat-rapat dan menutupkan tangan ke telinganya. Ia hanya ingin menyingkirkan semuanya. Ia tidak mau tahu bahwa simpanan Cheese-nya semakin berkurang. Ia yakin bahwa Cheese-nya diambil semuanya sekaligus secara tiba-tiba.
    Hem mengannalisa situasi tersebut berkali-kali sampai akhirnya otaknya yang canggih dan system kepercayaannya yang besar mengambil alih. “Mengapa mereka memperlakukan aku seperti ini?” tuntutnya. “Apa yang sebenarnya terjadi di sini?”
    Akhirnya Haw membuka matanya, melihat sekeliling ruangan dan berkata, “Ngoomong-omong, kemana Sniff dan Scurry? Apakah mereka tahu sesuatu yang tidak kita ketahui?”
    “Apa yang mereka ketahui?” kata Hem sinis. Lanjut Hem, “Mereka Cuma tikus biasa. Mereka hanya merespon apa yang terjadi. Kita adalah kurcaci. Kita lebih pintar dari tikus-tikus itu. Kita harus mampu menemukan jawaban terhadap apa yang telah terjadi.”
    “Aku tahu, kita lebih pinta,” kata Haw, “namun tampaknya kita tidak bertindak lebih pintar saat ini. Situasi di sini telah berubah Hem. Mungkin kita perlu berubah dan melakukan hal yang berbeda.”
    “Mengapa kita harus berubah?” tanya Hem. “Kita kurcaci. Kita beda. Hal semacam ini tidak selayaknya menimpa kita. Atau jika terjadi, setidaknya kita mendapatkan keuntungan darinya.”
    “Mengapa kita harus mendapatkan keuntungan?” tanya Haw.
    “Karena kita berhak,” kata Hem mantap.
    “Berhak atas apa?” kata Haw ingin tahu.
    “Kita berhak atas Cheese kita.”
    “Mengapa?” tanya Haw lagi.
    “Karena, bukan kita yang menyebabkan bencana ini,” kata Hem. “Ini disebabkan oleh orang lain, maka kita harus mencari tahu.”
    Haw mengusulkan, “Mungkin sebaiknya kita berhenti menganalisa situasi ini dan mulai pergi mencari Cheese baru.”
    “Oh, tidak,” debat Hem. “Aku akan mencari akar permasalahannya.”
    Sementara Hem dan Haw masih mencoba memutuskan apa yang akan mereka lakukan, Sniff dan Scurry telah menemukan jalan mereka. Mereka masuk jauh ke dalam labirin, keluar masuk lorong dan koridor yang ada, mencari cheese di setiap Cheese Station yang mereka temukan. Mereka tidak memikirkan hal-hal lain selain mencari Cheese Baru.
    Memang, mereka tidak langsung menemukan cheese selama beberapa waktu, sampai akhirnya tiba di suatu bagian labirin yang belum pernah mereka datangi sebelumnya : Cheese Station N.
    Mereka memekik kegirangan. Mereka menemukan apa yang mereka cari-cari : persediaan Cheese Baru yang sangat banyak.
    Mereka tidak bisa mempercayai penglihatan mereka. Tempat itu adalah toko cheese terbesar yang pernah dilihat oleh para tikus.
    Sementara itu, Hem dan Haw masih kembali ke Cheese Station C untuk mengevaluasi keadaan mereka. Mereka sekarang mulai menderita karena kelangkaan Cheese. Mereka menjadi putus asa dan saling menyalahkan satu sama lain sebagai penyebab penderitaan mereka.
    Sering kali Haw memikirkan rekan tikus mereka, Sniff dan Scurry, serta bertannya-tanya apakah mereka sudah menemukan cheese atau belum. Ia yakin sekali mereka juga mengalami masa-masa yang sulit karena berlarian di dalam labirin yang tidak sedikit pun menjanjikan kepastian. Namun, ia juga tahu bahwa keadaan semacam itu hanya akan berlangsung sementara.
    Terkadang, Haw membayangkan Sniff dan Scurry telah menemukan Cheese Baru dan sedang menikmatinya. Ia membayangkan mungkin sebaiknya ia juga berlarian berpetualang lagi di labirin dan menemukan Cheese Baru yang masih segar. Ia bahkan hampir bisa merasakannya.
    Semakin jelas Haw melihat gambaran dirinya menemukan dan menikmati Cheese Baru, semakin kuat pula dorongan dari dalam dirinya untuk meninggalkan Cheese Station C.
    “Ayo kita pergi!” teriaknya tiba-tiba.
    “Tidak,” balas Hem dengan cepat. “Aku senang di sini. Nyaman. Kita sudah kenal. Di samping itu di luar sana sangat berbahaya.”
    “Sama sekali tidak,” bantah Haw. “Kita sudah menjelajahi banyak tempat sebelumnya, kita bisa melakukannya lagi.”
    “Aku sudah terlalu tua untuk itu,” kata Hem. “Dan aku takut, aku tidak ingin tersesat dan mengolok-olok diri sendiri. Kamu juga kan?”
    Mendengar itu, ketakutan Haw akan kegagalan pun muncul kembali dan harapannya untuk menemukan Cheese Baru pun surut.
    Jadi, setiap hari mereka tetap melakukan hal-hal yang biasa mereka lakukan selama ini. Mereka pergi ke Cheese Station C, tidak menemukan Cheese, lalu pulang ke rumah, dalam keadaan khawatir dan putus asa.
    Mereka berusaha menolak kenyataan yang terjadi, namun hal itu mmalah membuat mereka sulit tidur, sehingga membuat mereka kehilangan tenaga pada keesokan harinya dan menjadi semakin mudah tersinggung.
    Rumah mereka bukan lagi tempat peristirahatan bagi mereka seperti sebelumnya. Mereka sulit tidur dan sering mimpi buruk tentang tidak menemukan Cheese sama sekali. Namun, Hem dan Haw tetap saja kembali ke Cheese Station C dan menunggu di sana setiap hari.
    Menurut Hem, “Tahu tidak, jika saja kita bekerja lebih keras lagi kita akan menemukan bahwa tidak ada perubahan besar. Cheese itu mungkin saja ada di dekat kita. Mungkin mereka menyembunyikannya di balik dinding.”
    Keesokan harinya, Hem dan Haw kembali dengan membawa peralatan. Hem membawa pahat, sementara Haw memukul-mukulkan palu sampai mereka membuat lubang di dinding Cheese Station C. Mereka mengintip ke ddalamnya, namun tetap tidak menemukan Cheese.
    Mereka kecewa namun masih yakin bahwa mereka bisa memecahkan masalah itu. Maka mereka mulai bekerja lebih pagi, tinggal lebih lama dan bekerja lebih keras. Namun setelah beberapa lama mereka bekerja, yang mereka dapatkan hanyalah lubang besar di dinding.
    Haw mulai menyadari adanya perbedaan besar antara aktivitas dan produktivitas.
    “Mungkin,” kata Hem, “kita sebaiknya duduk dulu dan melihat apa yang akan terjadi. Cepat atau lambat mereka pasti akan menaruh cheese itu lagi di sini.”
    Haw sangat ingin mempercayainya. Maka setiap hari ia pulang ke rumah hanya untuk beristirahat dan kembali dengan enggan bersama Hem ke Cheese Station C. Namun Cheese tidak pernah muncul lagi.
    Saat itu mereka menjadi semakin lemah karena lapar dan tertekan. Haw mulai bosan menunggu dan berharap akan adanya perubahan situasi. Ia mulai menyadari semakin lama mereka berada dalam keadaan tanpa Cheese, keadaan mereka akan bertambah parah.
    Haw tahu mereka sudah sampai pada batas kekuatan dan kesabaran mereka.
    Akhirnya, pada suatu hari Hawmnertawakan dirinya sendiri. “Haw (ha), Haw (ha), lihatlah keadaan kita. Kita tetap melakukan hal yang sama terus menerus dan bertanya-tanya mengapa keadaan tidak bertambah baik. Jika ini tidak bisa dibilang konyol, pasti ada istilah yang lebih lucu lagi.”
    Haw tidak menyukai ide untuk berlarian lagi di labirin, karena ia tahu akan tersesat dan tidak tahu dimana ia akan menemukan Cheese. Namun ia harus menertawakan kebodohannya, dan bagaimana rasa takutnya telah mempermainkan dirinya.
    Ia bertanya kepada Hem, “Di manakah kita meletakkan sepatu lari kita?” Butuh waktu lama untuk menemukannya, karena mereka telah memindahkan barang-barang saat menemukan Cheese mereka di Cheese Station C, dan menurut mereka, saat itu, tidak akan memerlukan sepatu itu lagi.
    Ketika Hem melihat rekannya mulai mengenakan peralatan larinya, ia berkata, “Kamu tidak serius akan berlarian di dalam labirin lagi, kan? Mengapa tidak menunggu saja di sini bersamaku sampai mereka menaruh Cheese lagi di sini?”
    “Karena, kamu tidak memahaminya,” kata Haw. “Aku sebenarnya juga tidak ingin kembali ke sana, namun sekarang aku sadar mereka tidak akan pernah mengembalikan Cheese yang lalu ke sini. Inilah saatnya menemukan Cheese Baru.”
    Hem membantah, “Tapi bagaimana jika di luar sana juga tidak ada Cheese? Atau kalaupun ada, tapi kamu tidak bisa menemukannya?”
    “Aku tak tahu, “ jawab Haw. Ia sudah menanyakan pertanyaan yang sama kepada dirinya sendiri berkali-kali dan merasakan ketakutannya muncul kembali, ketakutan yang membuat ia berada di tempat yang sama sampai saat ini.
    Ia bertanya kepada dirinya sendiri, “Di manakah kesempatan yang lebih besar untuk menemukan Cheese, di sini atau di dalam Labirin?”
    Ia membayangkan satu gambar dalam angannya. Ia melihat dirinya sendiri keluar dari Labirin dengan senyum di wajahnya.
    Meskipun gambaran itu mengejutkannya, namun hal itu membuatnya merasa lebih baik. Ia melihat dirinya tersesat berkali-kali di dalam Labirin, namun cukup percaya diri bahwa akhirnya ia menemukan Cheese Baru di luar sana bersamaan dengan hal-hal baik yang menyertainya. Ia mulai mengumpulkan keberaniannya.
    Kemudian ia mulai menggunakan imajinasinya untuk menggambarkan gambaran yang paling ia yakini, dengan detail yang realistis, bahwa ia akan menemukan dan menikmati rasa Cheese Baru.
    Ia melihat dirinya sedang makan cheese Swiss yang berlubang-lubang, cheese Cheddar dan cheese Amrika yang berwarna oranye terang, cheese mozzarella dari Italia, dan lembutnya cheese Perancis Camembert, serta ….
    Kemudian ia mendengar Hem mengatakan sesuatu, dan menyadari bahwa mereka masih di dalam Cheese Station C.
    Haw berkata, “Hem, kadangkala, sesuatu itu berubah dan mereka tidak akan pernah sama lagi. Hal ini sama seperti yang terjadi dulu. Itulah hidup! Kehidupan terus berjalan. Dan kita pun harus demikian.”
    Haw melihat pada rekannya yang diam saja dan mencoba menjelaskan pemikirannya kepadanya, akan tetapi ketakutan Hem sudah berubah menjadi kemarahan dan ia tidak lagi mau mendengarkan.
    Haw tidak bermaksud menyinggung temannya, akan tetapi ia harus menertawakan betapa bodohnya mereka berdua.
    Saat Haw bersiap-siap untuk berangkat, ia mulai merasa lebih bergairah, tahu bahwa akhirnya ia bisa menertawakan diri sendiri, merelakan dan bergerak maju. Haw tertawa dan mengumumkan, “Inilah waktunya ber-LABIRIN!”
    Hem tidak tertawa dan juga tidak bereaksi.
    Haw mengambil batu kecil yang tajam dan menuliskan bahan untuk dipikirkan oleh Hem di dinding. Sama seperti kebiasaannya, Haw bahkan menggambar Cheese di sekelilingnya, dengan harapan tulisan itu bisa membuat Hem tersenyum, tergugah dan mulai mengejar Cheese Baru. Akan tetapi Hem tidak ingin melihatnya.
    Tertulis :
    Jika Anda Tidak Berubah, Anda Akan Punah.
    Kemudian, Haw menjulurkan kepalanya keluar dan mengintip dengan cemas kea rah labirin. Ia berpikir kenapa ia bisa terjebak dalam situasi tanpa Cheese seperti ini.
    Ia pernah punya keyakinan bahwa bisa jadi di dalam sana tidak ada Cheese, dan mungkin ia tidak akan pernah menemukannya. Keyakinan yang timbul karena ketakutannya itu telah membekukan dan membunuhnya.
    Haw tersenyum. Ia tahu Hem pasti sedang bertanya-tanya “Who Moved My Cheese?”, namun saat ini Haw sedang bertanya pula, “Mengapa aku tidak bangkit dan bergerak bersama Cheese lebih awal?”
    Saat ia mulai masuk ke dalam labirin, Haw menoleh lagi ke belakang, dan bisa merasakan kenyamanannya. Ia bisa merasakan dirinya ditarik ke daerah yang telah dikenalnya dengan baik, walaupun ia sudah lama tidak lagi menemukan Cheese di sana.
    Haw menjadi lebih cemas dan bertanya-tanya apakah ia benar-benar ingin pergi ke dalam labirin. Ia menuliskan pepatah di dinding yang ada di depannya dan menatapnya beberapa saat :
    Apa yang Akan Anda Lakukan Jika Anda Tidak Takut?
    Ia memikirkaannya. Ia tahu kadang rasa takut penting juga. Saat rasa takut menyerang, segala sesuatunya akan menjadi semakin buruk jika kita tidak berbuat sesuatu, sehingga hal itu bisa mendorong kita untuk melakukan sesuatu. Namun, rasa takut tak akan berguna jika terlalu takut sehingga Anda tidak berani melakukan apa pun.
    Ia melihat ke sebelah kanannya, ke bagian labirin yang belum pernah dijelajahinya, dan rasa takutnya pun mulai menyerang.
    Kemudian ia mengambil napas dalam-dalam, berbelok ke kanan, masuk ke dalam labirin, sambil berlari-lari kecil menuju ke tempat yang belum diketahuinya.
    Saat ia mencoba menemukan jalannya, pada mulanya Haw merasa khawatir, jangan-jangan ia sudah terlalu lama menunggu di Cheese Station C. Ia sudah lama tidak makan Cheese yang membuat keadaannya saat ini lemah. Ia memerlukan waktu yang lebih lama, dan lebih sulit untuk berjalan di dalam labirin dibanding dulu. Ia memutuskan, jika ia mendapat kesempatan sekali lagi, ia akan keluar dari zona kenikmatannya dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi secepat mungkin. Hal itu akan membuat segalanya lebih mudah.
    Kemudian Haw tersenyum simpul saat terlintas dalam pikirannya, “Lebih baik terlambat darripada tidak sama sekali.”
    Selama beberapa hari Haw bisa menemukan sedikit Cheese di sini dan sedikit lagi di sana, namun jumlahnya tidak cukup banyak untuk bertahan lama. Ia berharap bisa menemukan Cheese dalam jumlah cukup besar, sehingga bisa dibawa kembali ke tempat Hem berada dan untuk membujuknya keluar dan kembali masuk ke dalam labirin.
    Namun saat ini Haw masih belum begitu percaya diri. Ia masih sering kebingungan di dalam labirin. Banyak hal sudah berubah sejak terakhir kali ia masuk ke sana.
    Saat ia merasa sudah mendapat kemajuan, tiba-tiba ia mendapati dirinya tersesat dalam lorong-lorong labirin. Perkembangannya seperti maju dua langkah lalu mundur lagi satu langkah. Itulah tantangannya, namun ia mengakui bahwa kembali ke labirin, memburu Cheese, tidaklah seburuk yang ia takutkan sebelumnya.
    Setelah lewat beberapa waktu, ia mulai bertanya-tanya, apakah cukup realistis jika ia berharap dapat menemukan Cheese Baru. Apakah ia telah makan lebih dari yang bisa ia makan. Kemudian ia tertawa, menyadari bahwa saat ini tak ada sesuatu yang bisa ia makan.
    Setiap kali ia merasa takut, ia mengingatkan diri sendiri akan apa yang sudah ia lakukan, betapa tidak nyamannya saat itu, bahhwa keadaan saat ini jauh lebih baik dibanding dengan keadaan tanpa Cheese untuk dimakan. Kini ia memegang kendali, tidak lagi pasrah pada keadaan.
    Kemudian ia mengingatkan dirinya sendiri, jika Sniff dan Scurry saja bisa berjalan terus, tentu ia juga bisa!
    Kemudian, saat Haw melihat kembali ke belakang, baru disadarinya bahwa lenyapnya Cheese di Cheese Station C tidaklah terjadi begitu saja seperti yang dipercayainya selama ini. Jumlah Cheese yang ada, memang semakin berkurang, dan yang tertinggal pun sudah tua. Yang rasanya sudah tidakk enak.
    Bahkan jamur pun sudah bertumbuh di atas cheese-cheese tua itu. Namun ia tidak begitu memperhatikan. Diakuinya juga, jika ia menyempatkan diri memperhatikan hal-hal tersebut, pasti ia sudah bisa menduga apa yang akan terjadi. Namun itu tidak ia lakukan.
    Sekarang Haw sadar bahwa perubahan tidak akan mengejutkannya jika ia selalu memperhatikan kejadian-kejadian yang ada dan mengantisipasi perubahan yang terjadi. Mungkin itulah yang telah dilakukan oleh Sniff dan Scurry.
    Ia memutuskan untuk lebih waspada mulai sekarang. Ia akan menyongsong perubahan yang dating dan mengatasinya. Ia akan lebih memperhatikan nalurinya untuk merasakan saat perubahan akan terjadi dan mempersiapkan diri untuk menyesuaikan diri. Ia berhenti untuk beristirahat dan menulis di dinding Labirin :
    Ciumlah Cheese Sesering Mungkin Sehingga Anda Tahu Saat Ia Mulai Membusuk.
    Beberapa waktu kemudian, sesudah sekian lama tidak juga menemukan Cheese, Haw menemukan sebuah Cheese Station besar yang tampak menjanjikan. Namun saat ia masuk ke dalamnya, ia sangat kecewa ternyata kosong.
    “Perasaan kosong ini sudah sering aku rasakan, “ pikirnya. Ia merasa putus asa dan ingin menyerah saja. Kakuatan Haw jauh menurun. Ia tahu ia tersesat dan takut kalau tidak bisa bertahan hidup. Ia berpikir untuk berbalik arah dan kembali ke Cheese Station C. Paling tidak jika ia kembali, dan Hem masih ada di sana, ia tidak akan sendirian. Kemudian ia menanyakan pertanyaan yang sama lagi, “Apa yang akan saya lakukan jika saya tidak takut?”
    Haw merasa bahwa ia sudah bisa mengatasi rasa takutnya, namun sebenarnya ia lebih sering merasa takut dibandingkan keberanian yang ia akui, bahkan pada dirinya senndiri. Ia tidak selalu begitu yakin akan penyebab rasa takut itu, namun, dalam kondisi yang semakin lemah, ia tahu bahwa sebenarnya ia takut pergi sendiri. Haw tidak mengetahuinya, hal itu terjadi karena rasa takut yang ditimbulkan oleh berbagai macam kepercayaan yang diyakininya lebih mendominasi dirinya.
    Haw bertanya-tanya apakah Hem juga sudah mulai bergerak, atau masih terbelenggu oleh ketakutan-ketakutannya. Kemudian Haw ingat masa-masa terbaiknya saat berada di tengah belantara labirin. Yaitu saat ia terus bergerak.
    Ia menulis lagi di dinding, karena tulisannya lebih merupakan pengingat bagi dirinya sendiri disbanding sebagai petunjuk jalan bagi temannya, si Hem, dengan harapan akan diikuti :
    Gerakan ke Arah Baru Membantu Anda Menemukan Cheese Baru.
    Haw melihat jauh ke jalan setapak yang gelap dan ia sadar kalau ia takut. Apa yang ada di depan sana? Apakah kosong? Atau bahkan lebih buruk lagi, ada bahaya mengancam? Ia mulai membayangkan hal-hal yang menakutkan yang bisa terjadi pada dirinya. Ia membuat dirinya sendiri ketakutan setengah mati.
    Kemudian ia tertawa sendiri. Ia sadar bahwa rasa takut akan membuat keadaan menjadi bertambah buruk. Maka ia pun melakukan apa yang akan ia lakukan jika ia tidak takut. Ia bergerak kea rah yang baru.
    Saat ia mulai berlari memasuki lorong yang gelap itu, ia pun tersenyum. Ia tidak menyadari sebelumnya, namun ia menemukan hal yang menyejukkan jiwanya. Ia merelakan yang telah terjadi dan mempercayai apa yang ada di depannya, meskipun ia tak tahu apa yang menantinya di depan sana.
    Di luar perkiraannya, ia mulai menikmati apa yang dilakukannya. “Mengapa aku merasa sangat senang?” pikirnya keheranan. “Aku tidak punya Cheese secuil pun dan tak tahu akan kemana.”
    Segera setelah itu, ia tahu apa yang membuatnya bahagia. Ia berhenti dan menulis lagi di dinding :
    Saat Anda Meninggalkan Rasa Takut di Belakang, Anda Akan Merasa Bebas.
    Haw menyadari bahwa dirinya telah terbelenggu oleh rasa takutnya sendiri. Bergerak menuju arah yang berbeda telah membebaskannya.
    Sekarang ia bisa merasakan tiupan angina dingin yang menyegarkan di bagian labirin tersebut. Ia mengambil napas panjang beberapa kali dan merasakan energi baru mengalir ke dalam tubuhnya. Begitu ia bisa mengatasi rasa takutnya, ternyata berada di labirin terasa lebih menyenangkan, berbeda dengan yang dulu dipercayainya.
    Sudah lama Haw tidak merasakan hal seperti itu. Bahkan ia sudah hampir lupa betapa menyenangkannya mengejar Cheese itu.
    Agar segalanya menjadi lebih baik, Haw mulai melukis gambar angan-angannya lagi. Ia melihat dirinya secara utuh sedang duduk di tengah tumpukan Cheese kesukaannya, baik Cheddar maupun Brie! Ia melihat dirinya makan cheese favoritnya sebanyak ia mau, dan ia menikmati pemandangan yang dilihatnya. Kemudian ia membayangkan bagaimana puasnya ia bisa merasakan rasa cheese yang enak-enak itu.
    Semakin jelas ia melihat bayangan dirinya menikmati Cheese Baru, semakin nyata dan yakin bahwa hal itu bisa didapatkannya. Ia bisa merasakan bahwa ia akan memperoleh semuanya. Ia lalu menulis :
    Membayangkan Diriku Sendiri Sedang Menikmati Cheese Baru, Bahkan Sebelum Aku Menemukannya, Telah Mengarahkan Aku Kepadanya.
    Haw tidak lagi berpikir tentang kerugian yang bakal ia derita, sebagai gantinya ia memikirkan tentang apa yang akan ia peroleh.
    Ia terheran-heran mengapa sebelumnya ia selalu berpikir bahwa perubahan akan selalu berakibat buruk. Sekarang ia menyadari bahwa perubahan bisa mengarah ke sesuatu yang lebih baik.
    “Mengapa aku tidak bisa melihat hal ini sebelumnya?” tanyanya pada diri sendiri.
    Dan kemudian ia pun berlari sepanjang labirin dengan kekuatan dan semangat yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Tak lama kemudian ia menemukan Cheese Station dan sangat gembira ketika melihat ada sepotong Cheese Baru terlihat di dekat pintu masuk.
    Ada berbagai jenis Cheese yang belum pernah ia lihat sebelumnya, namun semuanya kelihatan enak. Ia mencoba dan ternyata memang enak.
    Ia memakan hampir seluruh Cheese Baru yang ada dan menyimpan sedikit di kantongnya untuk dimakan kemudian atau bahkan untuk dibagikan kepada Hem. Kekuatannya pun mulai pulih.
    Ia memasuki Cheese Station Baru itu dengan penuh kegembiraan. Namun, ternyata di dalamnya kosong, sungguh mengecewakan. Seseorang sudah lebih dulu menghabiskan Cheese di situ dan hanya meninggalkan kepingan-kepingan kecil Cheese Baru.
    Ia menyadari bahwa jika saja ia bergerak lebih cepat, ia akan menemukan banyak Cheese Baru di sini.
    Haw memutuskan untuk kembali dan akan melihat apakah Hem sudah siap untuk bergabung. Saat ia berbalik ke jalan yang pernah dilewatinya, ia berhenti dan menulis di dinding :
    Semakin Cepat Anda Melupakan Cheese Lama, Semakin Cepat Pula Anda Menemukan Cheese Baru.
    Beberapa saat kemudian Haw kembali ke Cheese Station C dan menemukan Hem di sana. Ia menawarkan sepotong Cheese baru, namun ditolak.
    Hem menghargai tawaran temannya itu, namun katanya, “Kupikir aku tidak akan suka
    Cheese Baru. Itu bukan yang biasa aku makan. Aku ingin Cheese-ku kembali dan aku tidak akan berubah sampai aku dapatkan yang aku mau.”
    Haw hanya bisa menggelengkan kepalanya, kecewa dan dengan enggan kembali keluar seorang diri. Saat ia telah kembali di ujung tempat terjauh yang pernah ia jelajahi, ia pun merasa kehilangan teman, namun menyadari ia menyukai apa yang sedang ditemukannya. Bahkan sebelum menemukan impiannya, persediaan Cheese Baru yang banyak, jika ada, ia tahu bahwa yang membuatnya bahagia bukanllah hanya memiliki Cheese.
    Ia bahagia karena tidak dikejar-kejar oleh rasa takutnya. Ia menyukai apa yang sedang ia lakukan sekarang.
    Menyadari hal ini, Haw tidak lagi merasa selemah saat ia masih tinggal di Cheese Station C tanpa Cheese. Kesadaran bahwa ia tidak akan membiarkan rasa takutnya menghentikannya dan bahwa ia sekarang menuju kea rah baru membuat Haw bersemangat dan merasa kuat.
    Sekarang ia merasa bahwa tinggal menunggu waktu saja sebelum ia menemukan yang ia butuhkan. Bahkan ia sudah bisa merasakan ia telah menemukan apa yang ia cari. Ia tersenyum saat menyadari :
    Jauh Lebih Aman Pergi Mencari Cheese di Labirin di Banding Tetap Bertahan dalam Keadaan Tanpa Cheese.
    Haw kembali menyadari, seperti yang pernah ia rasakan sebelumnya, yaitu bahwa apa yang kita takutkan tidaklah seburuk yang kita bayangkan. Ketakutan yang kita biarkan berkembang dalam pikiran kita jauh lebih buruk daripada kenyataan sebenarnya.
    Ia pernah sangat takut kalau-kalau tidak bisa menemukan Cheese lagi, dan oleh karenanya ia takut untuk mulai mencari. Namun sejak ia memulai perjalanannya ia menemukan cukup banyak Cheese di lorong-lorong untuk membantunya bertahan. Dan sekarang ia berencana untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Hanya berencana saja sudah membuatnya bergairah.
    Pemikirannya di masa lalu telah tertutup oleh awan kecemasan dan ketakutannya. Ia pernah berpikir akan kekurangan Cheese, atau Cheese-nya tidak bisa bertahan lama. Ia juga lebih banyak berpikir tentang akibat buruk apa yang akan terjadi dibandingkan, kebaikan apa yang bisa ia peroleh. Namun hal itu sudah berubah saat ia meninggalkan Cheese Station C.
    Ia pernah punya keyakinan bahwa Cheese sebaiknya tidak boleh dipindahkan dan perubahan adalah sesuatu yang salah.
    Saat ini ia menyadari bahwa perubahan akan selalu terjadi, baik kita mengharapkannya atau tidak. Perubahan hanya bisa mengagetkan kita jika kita tidak mengharapkannya dan tidak memperkirakannya. Saat menyadari bahwa keyakinannya telah berubah, ia berhenti untuk menulis di dinding :
    Keyakinan Lama Tidak Akan Membawa Anda Kepada Cheese Baru.
    Haw belum lagi menemukan Cheese, namun saat ia berlarian di dalam Labirin, ia memikirkan pelajaran-pelajaran yang ia dapatkan.
    Haw sekarang sadar bahwa keyakinan barunya membentuk perilaku yang baru pula. Tindakannya saat ini sangat berbeda dengan apa yang ia lakukan saat masih bolak balik ke station cheese yang kosong dulu.
    Ia tahu saat Anda mengubah keyakinan anda, tindakan Anda pun berubah.
    Bisa saja Anda percaya bahwa perubahan akan mencelakakan Anda sehingga Anda menolaknya. Namun bisa pula Anda berkeyakinan bahwa menemukan Cheese Baru akan sangat membantu Anda, oleh karena itu Anda menyambut perubahan yang terjadi. Itu semua tergantung dari pilihan keyakinan Anda. Ia menulis di dinding :
    Saat Anda Sadarr Bahwa Anda Bisa Menemukan Cheese dan Menikmati Cheese Baru, Anda Akan Mengubah Haluan.
    Haw mengakui jika saja ia lebih cepat menggatasi perubahan yang terjadii dan meninggalkan Cheese Station C dari awal, mungkin keadaannya sudah lebih baik. Ia akan merasa lebih kuat dan sehat lahir batin serta siap menghadapi tantangan pencarian Cheese Baru. Bahkan, mungkin ia sudah menemukannya sekarang jika saja ia siap mengantisipasi perubahan, daripada membuang waktu untuk menyangkal bahwa perubahan sudah datang.
    Ia menggunakan imajinasinya lagi dan melihat dirinya telah menemukan Cheese Baru dan sedang menikmatinya. Ia memutuskan untuk terus menjelajahi bagian-bagian yang belum diketahuinya di dalam Labirin, dana menemukan sedikit Cheese di sana-sini. Haw pun mulai mendapatkan kembali kekuatan dan kepercayaan dirinya.
    Saat ia memikirkan tempat asalnya dulu, Haw merasa gembira karena telah menulisi dinding labirin di beberapa tempat. Ia yakin tulisan-tulisan itu bisa menjadi petunjuk jalan bagi Hem, jika ia memutuskan untuk meninggalkan Cheese Station C.
    Haw hanya berharap ia menuju ke arah yang benar. Ia memikirkan tentang kemungkinan Hem membaca Tulisan Tangan di Dinding dan menemukan jalannya. Ia menulis di dinding, suatu hal yang telah berulang kali dipikirkannya :
    Memperhatikan Perubahan-perubahan Kecil Sejak Awal Akan Membantu Anda Menyesuaikan Diri Terhadap Perubahan Besar yang Akan Muncul.
    Saat ini, Haw telah bisa melupakan masa lalu dan mennyesuaikan diri dengan situasi sekarang. Ia meneruskan pencariannya di dalam labirin dengan kekuatan dan kecepatan yang terus bertambah. Dan tak lama kemudian, terjadilah.
    Saat ia merasa bahwa ia akan terjebak dalam labirin selamanya, perjalanannya – atau setidaknya perjalanannya saat ini – berakhir dengan cepat dan menggembirakan. Haw menyusuri sebuah lorong yang belum pernah dimasukinya, berbelok dan ia menemukan Cheese Baru di Cheese Station N!
    Saat ia masuk, pemandangan di depannya membuatnya sangat terkejut. Tumpukan Cheese tampak ada di mana-mana, benar-benar persediaan Cheese terbesar yang pernah dilihatnya. Tidak semua Cheese dikenalnya, karena beberapa di antara Cheese tersebut ada yang baru pertama kali ini dilihatnya.
    Untuk sesaat ia bertanya-tanya apakah ini benar-benar tejadi atau hanya khayalannya saja, sampai ia melihat dua teman lamanya Sniff dan Scurry. Sniff menyembutnya dengan anggukan kepala dan Scurry melambaikan cakarnya. Perut mereka yang membuncit menunjukkan bahwa mereka sudah cukup lama di sana.
    Haw dengan cepat membalas salam itu dan segera mencicipi semua Cheese kesukaannya. Ia melepas sepatu larinya, mengikat kedua talinya dan mengalungkannya di leher. Sniff dan Scurry tertawa. Mereka menganggukkan kepala tanda setuju. Kemudian Haw menerjang Cheese Baru. Saat ia sudah kenyang, diangkatnya sepotong Cheese segar dan bersulang, “Selamat untuk Cheese!”
    Saat Haw menikmati Cheese-nya, ia mengingat-ingat kembali pelajaran yang diperolehnya. Ia sadar saat ia merasa takut berubah ia terbelenggu oleh bayangan meengenai Cheese Lama yang sebetulnya sudah tidak ada lagi.
    Jadi apa yang membuatnya berubah? Apakah rasa takut akan mati kelaparan? Haw tersenyum, karena hal semacam itu kadang bisa membantu juga. Kemudian ia tertawa dan menyadari baha ia mulai berubah saat ia belajar untuk mentertawakan dirinya sendiri atas kesalahan yang ia lakukan. Ia sadar bahwa cara tercepat untuk berubah adalah dengan menertawakan kebodohan diri sendiri – sehingga kita bisa merelakan, melupakan dan dengan cepat mulai bergerak.
    Ia tahu, ia telah belajar hal yang sangat berguna dari rekan tikusnya, Sniff dan Scurry. Mereka membuat hidup ini sederhana. Mereka tidak melakukan analisa mendalam dan memperumit masalah. Saat situasi berubah dan Cheese dipindahkan, mereka berubah dan bergerak mengikuti Cheese. Ia akan mengingat hal itu.
    Haw juga menggunakan otaknya yang luar biasa untuk melakukan hal yang bisa diilakukan lebih baik oleh kurcaci dibandingkan tikus. Ia membayangkan dirinya – dengan detail yang sangat nyata – sedang menemukan sesuatu yang lebih baik – jauh lebih baik. Ia mengingat kembali kesalahan-kesalahan yang dibuatnya dimasa lalu dan menggunakannya untuk merencanakan masa depannya. Ia tahu bahwa kita bisa belajar untuk mengatasi perubahan.
    Anda bisa menjadi lebih sadar untuk tetap menyederhanakan segala sesuatunya, menjadi lebih luwes dan bergerak cepat. Anda tidak perlu memperumit permasalahan atau membingungkan diri sendiri dengan berbagai keyakinan-keyakinan lama. Anda sebaiknya memperhatikan perubahan-perubahan kecil yang terjadi sehingga saat perubahan besar dating Anda sudah siap.
    Ia tahu bahwa ia harus segera menyesuaikan diri, karena jika Anda tidak segera beradaptasi, bisa jadi Anda tidak akan pernah bisa menyesuaikan diri. Ia juga menyadari bahwa halangan terbesar untuk berubah terletak di dalam diri sendiri, dan masalahnya tidak akan membaik jika Anda tidak berubah.
    Mungkin yang paling penting adalah selalu ada Cheese Baru di luar sana baik kita sadari atau tidak. Dan kita baru bisa mendapatkannya jika kita bisa mengatasi rasa takut dan menikmati petualangannya.
    Ia tahu rasa takut itu penting, karena akan menjauhkan kita dari bahaya. Namun ia menyadari sebagian besar ketakutannya tidak masuk akal dan menghalanginya untuk berubah saat diperlukan. Saat itu ia tidak menyukai perubahan, namun ternyata perubahan tersebut menjadi suatu karunia yang mengantarkannya menemukan Cheese yang lebih baik. Bahkan ia menemukan bagian dirinya yang lebih baik juga.
    Saat Haw mengingat-ingat hal yang telah dipelajarinya, ia teringat temannya Hem. Ia bertanya-tanya apakah Hem sudah membaca pesan-pesan yang ia tuliskan di dinding Cheese Station C dan Labirin. Apakah Hem sudah memutuskan untuk merelakan dan mulai bergerak? Apakah ia telah masuk ke dalam Labirin dan menemukan hal-hal yang membuat hidupnya lebih baik? Ataukah Hem tetap saja membatu karena ia tidak mau berubah?
    Haw berpikir untuk kembali lagi ke Cheese Station C untuk melihat apakah Hem masih ada di sana – dengan asumsi ia masih bisa mengingat jalan kembali. Jika ia menemukan Cheese di sana, ia mungkin bisa menunjukkan cara bagaimana ia bisa keluar dari kesulitan yang dihadapinya. Namun Haw juga sadar bahwa ia sudah pernah mencoba untuk membuat temannya itu berubah.
    Hem harus bisa menemukan jalannya sendiri, keluar dari rasa nyamannya dan mengatasi rasa takutnya. Tak ada seorang pun yang bisa melakukan hal itu untuknya atau membujuknya. Ia harus bisa melihat keuntungan dari perubahan yang terjadi bagi dirinya. Haw tahu bahwa ia sudah meninggalkan petunjuk jalan bagi Hem dengan itu pasti ia bisa menemukan jalan, yang diperlukan hanya membaca Tulisan Tangann di Dinding.
    Ia menghentikan lamunannya dan menuliskan ringkasan pelajaran yang diperolehnya di dinding terbesar di Cheese Station N. Digambarnya potongan Cheese yang besar di sekeliling kebenaran-kebenaran yang diperolehnya dan ia tersenyum saat ia melihat apa yang telah didapatkan.
    Haw tahu ia telah banyak berubah sejak terakhir kali ia bersama Hem di Station Cheese C, namun ia juga sadar bahwa dengan mudah ia bisa kembali kekebiasaan lama jika ia merasa terlalu nyaman. Oleh karena itu, setiap hari ia memeriksa Cheese Station N untuk melihat keadaan Cheese-nya. Ia akan melakukan segalanya agar perubahan tidak lagi mengejutkannya.
    Meskipun Haw mempunyai persediaan Cheese yang sangat banyak, ia masih sering menjelajahi labirin dan mendatangi daerah-daerah baru, sehingga ia akan tetap tahu apa yang terjadi di sekitarnya. Menurutnya jauh lebih aman jika ia menyadari pilihan-pilihan yang ada di depannya dibandingkan mengunci diri dalam zona kenyamanannya sendiri.
    Kemudian, Haw mendengar suara yang menurutnnya berasal dari dalam labirin. Suara rebut itu semakin keras terdengar, ia sadar bahwa seseorang sedang menuju ke sana. Hemkah yang dating? Diakah yang akan muncul di belokan sana? Haw berdoa singkat dan berharap – seperti yang sering ia lakukan selama ini – bahwa mungkin, akhirnya, temannya mampu untuk …
    Bergerak Bersama Cheese dan Menikmatinya !
    Akhirnya, yang manakah tokoh yang mencerminkan diri and? Sniff, Scurry, Hem atau Haw?

    Paid2YouTube.com

    Video