Outsource your programming projects at ScriptLance.com today - Free signup
Daftar di PayPal, lalu mulai terima pembayaran menggunakan kartu kredit secara instan.
Get paid To Promote at any Location

SEMANGAT KEBANGSAAN

oleh Koes Pratomo Wongsoyudo

 

Di sekitar ujung Perang Dunia kedua , ada seorang Laksamana Inggris berkata “Didalam wilayah Britania Raya, matahari tidak pernah tenggelam“.

Dia tidak sembarangan berkata begitu .

Tanah jajahan Inggris sedemikian luasnya, sehingga matahari tidak menemukan ujung wilayah. Sebelum dia sempat tenggelam, dia sudah sampai ke bagian lain dari wilayah kekuasaan Inggris .

Kalimat itu menjadi kebanggaan orang Inggris, sebagai bangsa penakluk.

Sampai-sampai sebegitu luasnya wilayah jajahannya..

Kesadaran sebagai bangsa,dan keinginan untuk merdeka, tumbuh juga di Indonesia. Oktober 1928 , diselenggaraakan Konggres Pemuda yang mencetuskan SUMPAH PEMUDA :”Berbangsa satu , bernegara satu dan berbahasa satu INDONESIA “.

Semangat untuk merdeka-pun sampai kepada puncaknya, ketika kita mem-proklamirkan kemerdekaan kita pada tgl 17 Agustus 1945.

Jadi ketika kita merdeka, kesadaran untuk Berbangsa dan Bernegara sudah mendahului langkah perjuangan.

Ketika Belanda datang kemari pada abad ke lima belas, Bangsa Indonesia sudah berbudaya tinggi. Kekaguman Belanda atas negara yang dijajahnya, terbukti dari banyaknya benda-benda kebudayaan yang dikumpulkan di negara Belanda.

Maka boleh disimpulkan, identitas sebagai bangsa sudah definitif ada, bahkan jauh sebelum kita merdeka.

Ada budaya yang tinggi dan ada semangat kebangsaan .

Atas kesadaran itulah kita berjuang untuk merdeka.

Tidak semua bangsa-bangsa jajahan bangkit dengan melalui proses yang demikian..

Berakhirnya perang Dunia Kedua dengan kemenangan Sekutu atas Jerman -Italy –Jepang memberi hikmah kepada bangsa-bangsa terjajah.

Karena kemudian terjadi persaingan antara dua kekuatan , Rusia dengan kubu komunisnya ,melawan Amesrika –Ingris dengan sekutu-sekutunya yang menamakan dirinya NEGARA – NEGARA BEBAS.

Franklin Deleanor Roosevelt [ FDR ], Presidan Amerika Serikat ,menyadarkan para sekutunya,bahwa mereka akan kalah bersaing dengan komunis kalau tidak memberi kemerdekaan kepada tanah jajahan mereka.

Karena komunis berkampanye dengan mendukung perjuangan untuk merdeka kepada bangsa-bangsa terjajah.

Kampanye FDR ampuh.

Suaranya memang didengar dan dituruti.

Indonesia memang menyatakan merdeka ketika terjadi ke-vacum-an, karena Jepang telah menyerah pada tgl 14 Agustus 1945 dan kekutan sekutu belum sampai disini.

Tapi kemudian harus berjuang secara fisik maupun diplomasi, karena Belanda enggan melepas daerah jajahannya yang terlanjur menjadi andalan hidup.

Churchill, Perdana Menteri Inggris, menerima saran FDR untuk memerdekakan jajahannya dengan menggerutu. Menolak tidak bisa, menuruti tidak rela.

Termasuk dalam sejumlah negara-negara yang baru diberi kemerdekaan oleh Inggris itu adalah Malaysia dan Singapura.

Tapi kemudian Inggris menemukan jalan keluar yang cerdik.

Inggris memberi kemerdekan kepada tanah-tanah jajahannya, tapi langsung menampungnya dalam sebuah organisasi yang mereka sebut NEGARA PERSEMAKMURAN {Commenwealth Countries }.Negara –negara yang baru merdeka itu ditampung dalam wadah persemakmuran itu, masih dalam sebuah Sistem Ekonomi dan Pertahanan bersama Inggris.

Dua hal yang sangat membebani negara –negara baru , yang belum tahu bagaimana caranya mengelola sebuah negara. Belenggu yang dipasang Inggris justru disambut senang oleh negara- negara jajahan yang baru merdeka.

Dengan cara seperti ini , berbeda dengan Belanda yang langsung kehilangan Indonesia ,sebagai lumbung kemakmurannya selama ini, Inggris melalui system Commenwealth masih bisa mempertahankan sistem ekonominya dengan tetap mengandalkan tanah jajahan.

Malaysia dan Singapura merdeka karena perubahan administrative, tanpa proses perjuangan seperti yang dialami Indonesia.

Negara-negara itu belum mempunyai perangkat yang menjadi ciri negara dan bangsa itu.

Dengan dadakan dikaranglah bendera dan lagu kebangsaan.

Entah dengan pertimbangan apa, Malaysia mengambil lagu rakyat ‘ TERANG BULAN’ dijadikan lagu kebangsaan dengan menyesuaikan liriknya.

Lagu INDONESIA RAYA dan bendera merah putih sudah ada sejak sebelum kita merdeka.

Tidak hanya itu .

Sejumlah lagu-lagu perjuangan, ikut mendampingi Indonesia Raya.

Sebut saja “Sorak-sorak bergembira“, ”Hari Merdeka”, “Maju tak gentar“, “Hallo-hallo Bandung“, ”Butet”, “Tanah pusaka”, “Rayuan pulau kelapa“ , “Gugur bunga”, “Sepasang mata bola” dan masih banyak yang lain.

Dan diseluruh persada Indonesia berserak berbagai monumen perjuangan .

Belum lagi sejumlah budaya yang definitif menjadi identitas dan kebanggaan Bangsa kita.

Karya-karya seni dan budaya Indonesia tak terkira jumlahnya.

Sementara kita melihat tetangga kita Malaysia dan Singapura, canggung melihat dirinya sendiri dalam status yang “katanya” merdeka. Mereka mencari-cari budaya mereka. Karena tak didapat jua, maka dicurilah budaya-budaya Indonesia. Mereka mengolahnya sehingga tampak sebagai budaya mereka dan berhasil mendapatkan devisa besar dari sektor pariwisata. Sekadar catatan sektor pariwisata adalah penyumbang terbesar pendapatan nasional Malaysia.

Saya pernah berbincang dengan wartawati dari Strait Times Malaysia. Wartawati ini khusus bertugas di bidang seni dan budaya. Ketika saya bertanya apa budaya nasional kamu. Dia mejawab budaya Indonesia. Dengan kata lain, mereka tidak mempunyai budaya nasional dan bingung dengan identitas nasionalnya.

Orang Melayu Malaysia lebih merasa sebangsa dengan sesama Melayu dari Singapura, meski masing-masing berpasport lain.

Begitu juga China Malaysia, dengan China Singapura dan India Malaysia dengan India Singapura..

Dan tidak merasa sebangsa dengan sesama warga negara Malaysia dan Singapura, kalau etnisnya berbeda.

Saat ini demokrasi di Malaysia terpasung sehingga unsur kreativitas tidak tersalurkan. Demokrasi di Malaysia mengalami kemunduran dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Bahasa Melayu di Malaysia memang dijadikan bahasa resmi pemerintahan, tapi orang Melayu yang hanya bisa berbahasa Melayu dan tidak bisa berbahasa Inggris, tidak bisa berharap mencapai kedudukan tinggi, baik dalam pemerintahan maupun pada kantor-kantor swasta.

Malaysia bahkan tidak berdaya ketika bahasa Melayu “diperkosa” dengan kaidah-kaidah Inggris yang merusak. Dengarlah mereka mengatakan “ Bile-bile mase “ untuk mengatakan “any tme” dan “yang mana satu“ untuk mengatakan “which one“.

Banyak orang-orang China, kendati-pun terlahir di Malaysia, tidak pandai berbahasa Melayu. Para executive China di Malaysia, kalau perlu pergi kekantor-kantor pemerintahan, seperti imigrasi dsb.nya terpaksa membawa staff-nya yang orang Melayu, karena sekedar mengisi formulirpun dia tak pandai..

Coba kita bandingkan dengan China Solo yang tahu gending, serimpi dan batik melebihi dari orang-orang Jawa sendiri. China Solo lebih Jawa dari orang Jawa sendiri. Dan sebaliknya orang-orang Jawa Solo sanggup memainkan kesenian Barongsai dengan cakapnya.

Orang-orang Malaysia dan Singapura memang tidak melihat identitas bangsa pada dirinya sendiri. Kegagapan inilah kemudian yang mendorongnya mengakui reog, batik, keris, tarian Minangkabau, rendang, lagu Rasa Sayange, bahkan tarian Pendet sebagai miliknya, tanpa tahu apa akar yang menumbuhkan semua itu .

Inggris memang berhasil menjaga kestabilan ekonomi dalam kawasannya. Tapi membiarkan yang selebihnya.

Perasaan rendah diri orang Malaysia menatap orang Inggris tak pernah sirna. Dan sebenarnya kalau kita berhadapan dengan orang Malaysia di daerah yang netral (di luar Indonesia dan Malaysia) akan tampak mereka akan minder dengan kita. Malaysia mendapatkan kemerdekaannya bukan karena perjuangan tapi hadiah dari Inggris. Inferior complex mereka sebagai bangsa terjajah, tetap saja tidak hilang.

Pada tahun 2009 ini Indonesia merdeka enam puluh empat { 64 } tahun lamanya.

Malaysia Singapura hanya kurang sedikit dari itu.

Sejak akhir tahun lima puluhan atau awal enam puluhan Indonesia patut di sebut BANGSA BESAR di arena olahraga bulutangkis.

Menjuarai All England , Thomas Cup dan Uber Cup sudah terlalu sering.

Nama-nama besar seperti Tan Yu Hok, Ferry Sonneville , Liem Swie King , Christian Hadinata, Ade Chandra, Chunchun –Johan Wahyudi ,Susi Susanti-Alan Budikusuma, Rexy Mainaki Ricky Subakgja dan masih banyk lagi.

Bahkan Rudy Hartono menjurai All England sampai delapan kali..

Sebuah prestasi yang tidak bisa disamai siapapun.
Ada istilah “King Smaash“, “Indonesia Service” dan lain sebagainya.

Ketika FDR mengumandangkan kemerdekaan bagi bangsa –bangsa terjajah, dia bersama sekutunya telah mempertimbangkan banyak hal.

Dengan alasan mencegah tragedi kemanusiaan seperti yang terjadi pada Perang Dunia yang baru usai, sebagai pihak yang menang perang ,mereka terpanggil untuk menjaga dunia dan membentuknya seideal mungkin.

Tolok ukurnya tentu saja kepentingan mereka sendiri Amerika –Inggris dan sekutunya..

Mereka juga tahu , semua bangsa akan bergerak maju dan semakin sadar akan kepentingannya sendiri..

Betapapun kemajuan bangsa –bangsa bekas jajahan itu harus bisa dikontrol.

Seperangkat alat untuk mengontrol duniapun dibentuk.

Alat-alat itu adalah Perserikatan Bangsa Bangsa [ PBB ], Mahkamah International, Bank Dunia dan lain-lain yang disodorkan seolah untuk membantu bangsa-bangsa tertinggal.

Kalau kita mengerti itu semua, kita juga mengerti bahwa segalanya tentang Indonesia cukup mengundang kekawatiran negara-negara itu.

Bangsa dengan semangat kebangsaan yang tinggi.

Tidak seperti Malaysia. yang belum mengerti arti kebangsaan.

Indonesia adalah bangsa dengan budaya yang definitive jelas.

Negara Indonsia juga luas dan kaya akan sumber alam

Jumlah penduduk pun terbesar keempat di dunia.

Semuaunya mengarah kepada potensi untuk menjadi Bangsa dan Negara yang kuat.

Karena itu laju kemajuan Indonesia harus bisa dikendalikan.

Dalam pemberontakan –pemberontakan separatisne, terbukti berkali-kali keterlibatan Amerika.

Dalam peristiqwa Timor Timur kita kalah karena permasalhannya diserahkan kepada PBB yang dibentuk untuk menjaga kepentingan Amerika dan kawan-kawan.

Pulau Sepadan lepas karena diserahkan kepada Mahkamah Interntional, yang juga alat untuk membela kepentongan Amerika dan para sekutunya. Dan sekarang Malaysia, merongrong pulau Ambalat.

Sementara masih ada masalah Separatisme Papua, dan Gerakan Separatisme Maluku.

Yang dikehendaki mereka adalah pecah-belahnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kita tidak bisa menyepelekan hal ini.

Sekian banyak jalan untuk menuju jenjang keatas, sedemikian juga banyaknya cara orang untuk membenamkan kita.

Pengakuan terhadap kekayaan budaya kita, pulau Ambalat, kekejian terhadap TKI kita, separatisme di Papua dan Maluku , haruslah dimengerti sebagai gangguan dalam sebuah desain besar.

KEDAULATAN KITA SEBAGAI BANGSA DAN NEGARA MERDEKA SEDANG DI RONG – RONG .

Mereka menyangsikan kita bisa membela diri.

Sejumlah kelemahan dijadikan senjata.

Semakin sukar kita menerima panggilan “saudara serumpun”.

Karena kalau memang YA demikian, Malaysia harus membuktikan diri sebagai Bangsa yang Berbudaya ,sama dengan Indonesia.

Malaysia harus mebuktikan sebagai Bangsa yang Beradab, yang hukum dan pengadilannya tidak membolehkan kekejian terjadi di wilayah hukumnya.

Dan “PE –ER” kita , Indonesia , kalau masih ingin mengaku sebagai bangsa merdeka, kita harus bisa mempertahankan kedaulatan kita.

Kita harus mampu mempertahankan setiap jengkal wilayah kita dari jamahan bangsa lain.

Kita harus bisa membela setiap warga negara kita, seberapa hinanya sekalipun dia.

Kita tidak boleh membiarkan siapapun untuk merendahkan martabat banga kita .

Kita harus pintar-pintar mengelola segenap sumber daya alam dan sumber daya manusia yang kita miliki.

 

Sumber :
http://shadow.blog.undip.ac.id/2009/09/02/hanya-turut-menyemarakkan-suasana/

0 comments:

Paid2YouTube.com

Video