Tulisan Lengkap Adjie Suradji di Harian Kompas edisi 6 September 2010

Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan
Oleh: Adjie Suradji


Terdapat dua jenis pemimpin cerdas, yaitu pemimpin cerdas saja dan pemimpin cerdas yang bisa membawa perubahan.

image Untuk menciptakan perubahan (dalam arti positif), tidak diperlukan pemimpin sangat cerdas sebab kadang kala kecerdasan justru dapat menghambat keberanian. Keberanian jadi satu faktor penting dalam kepemimpinan berkarakter, termasuk keberanian mengambil keputusan dan menghadapi risiko. Kepemimpinan berkarakter risk taker bertentangan dengan ciri-ciri kepemimpinan populis. Pemimpin populis tidak berani mengambil risiko, bekerja menggunakan uang, kekuasaan, dan politik populis atau pencitraan lain.

Indonesia sudah memiliki lima mantan presiden dan tiap presiden menghasilkan perubahannya sendiri-sendiri. Soekarno membawa perubahan besar bagi bangsa ini. Disusul Soeharto, Habibie, Gus Dur, dan Megawati.

Soekarno barangkali telah dilupakan orang, tetapi tidak dengan sebutan Proklamator. Soeharto dengan Bapak Pembangunan dan perbaikan kehidupan sosial ekonomi rakyat. Habibie dengan teknologinya. Gus Dur dengan pluralisme dan egaliterismenya. Megawati sebagai peletak dasar demokrasi, ratu demokrasi, karena dari lima mantan RI-1, ia yang mengakhiri masa jabatan tanpa kekisruhan. Yang lain, betapapun besar jasanya bagi bangsa dan negara, ada saja yang membuat mereka lengser secara tidak elegan.

Sayang, hingga presiden keenam (SBY), ada hal buruk yang tampaknya belum berubah, yaitu perilaku korup para elite negeri ini. Akankah korupsi jadi warisan abadi? Saatnya SBY menjawab. Slogan yang diusung dalam kampanye politik, isu ”Bersama Kita Bisa” (2004) dan ”Lanjutkan” (2009), seharusnya bisa diimplementasikan secara proporsional.

Artinya, apabila pemerintahan SBY berniat memberantas korupsi, seharusnya fiat justitia pereat mundus—hendaklah hukum ditegakkan—walaupun dunia harus binasa (Ferdinand I, 1503-1564). Bukan cukup memperkuat hukum (KPK, MK, Pengadilan Tipikor, KY, hingga Satgas Pemberantasan Mafia), korupsi pun hilang. Tepatnya, seolah-olah hilang. Realitasnya, hukum dengan segala perkuatannya di negara yang disebut Indonesia ini hanya mampu membuat berbagai ketentuan hukum, tetapi tak mampu menegakkan.

Quid leges sine moribus (Roma)—apa artinya hukum jika tak disertai moralitas? Apa artinya hukum dengan sedemikian banyak perkuatannya jika moral pejabatnya rendah, berakhlak buruk, dan bermental pencuri, pembohong, dan pemalas?

Keberanian

Meminjam teori Bill Newman tentang elemen penting kepemimpinan, yang membedakan seorang pemimpin sejati dengan seorang manajer biasa adalah keberanian (The 10 Law of Leadership). Keberanian harus didasarkan pada pandangan yang diyakini benar tanpa keraguan dan bersedia menerima risiko apa pun. Seorang pemimpin tanpa keberanian bukan pemimpin sejati. Keberanian dapat timbul dari komitmen visi dan bersandar penuh pada keyakinan atas kebenaran yang diperjuangkan.

Keberanian muncul dari kepribadian kuat, sementara keraguan datang dari kepribadian yang goyah. Kalau keberanian lebih mempertimbangkan aspek kepentingan keselamatan di luar diri pemimpin—kepentingan rakyat—keraguan lebih mementingkan aspek keselamatan diri pemimpin itu sendiri.

Korelasinya dengan keberanian memberantas korupsi, SBY yang dipilih lebih dari 60 persen rakyat kenyataannya masih memimpin seperti sebagaimana para pemimpin yang dulu pernah memimpinnya.

Memang, secara alamiah, individu atau organisasi umumnya akan bersikap konservatif atau tak ingin berubah ketika sedang berada di posisi puncak dan situasi menyenangkan. Namun, dalam konteks korupsi yang kian menggurita, tersisa pertanyaan, apakah SBY hingga 2014 mampu membawa negeri ini betul-betul terbebas dari korupsi?

Pertanyaan lebih substansial: apakah SBY tetap pada komitmen perubahan? Atau justru ide perubahan yang dicanangkan (2004) hanya tinggal slogan kampanye karena ketidaksiapan menerima risiko-risiko perubahan? Terakhir, apakah SBY dapat dipandang sebagai pemimpin yang memiliki tipe kepemimpinan konsisten dalam pengertian teguh dengan karakter dirinya, berani mengambil keputusan berisiko, atau justru menjalankan kepemimpinan populis dengan segala pencitraannya?

Indonesia perlu pemimpin visioner. Pemimpin dengan impian besar, berani membayar harga, dan efektif, dengan birokrasi yang lentur. Tidak ada pemimpin tanpa visi dan tidak ada visi tanpa kesadaran akan perubahan. Perubahan adalah hal tak terelakkan. Sebab, setiap individu, organisasi, dan bangsa yang tumbuh akan selalu ditandai oleh perubahan- perubahan signifikan. Di dunia ini telah lahir beberapa pemimpin negara yang berkarakter dan membawa perubahan bagi negerinya, berani mengambil keputusan berisiko demi menyejahterakan rakyatnya. Mereka adalah Presiden Evo Morales (Bolivia), Ahmadinejad (Iran), dan Hugo Chavez (Venezuela).

Indonesia harus bisa lebih baik. Oleh karena itu, semoga di sisa waktu kepemimpinannya—dengan jargon reformasi gelombang kedua—SBY bisa memberikan iluminasi (pencerahan), artinya pencanangan pemberantasan korupsi bukan sekadar retorika politik untuk menjaga komitmen dalam membangun citranya. Kita berharap, kasus BLBI, Lapindo, Bank Century, dan perilaku penyelenggara negara yang suka mencuri, berbohong, dan malas tidak akan menjadi warisan abadi negeri ini. Sekali lagi, seluruh rakyat Indonesia tetap berharap agar Presiden SBY bisa membawa perubahan signifikan bagi negeri ini.

Adjie Suradji, Anggota TNI AU



Sumber :
http://www.maiwanews.com/berita/tulisan-lengkap-adjie-suradji-di-harian-kompas/

10 Tahun Sebelum Malaysia Merdeka (Video)

Video berdurasi 30 menit ini secara umum menceritakan tentang fakta-fakta kondisi politik di Malaysia sampai detik ini, sejak mereka mendapatkan kemerdekaan dari kolonialisme Inggris.

Siasat penjajahan Inggris saat tiba di Malaysia menjadi kunci dari segala kondisi Malaysia saat ini. Inggris tidak secara langsung menjajah Malaysia seperti Belanda menjajah Indonesia. Mereka lebih picik, mereka mengontrol para pemimpin daerah (Sultan / Raja) Malaysia kemudian Raja-raja tersebut mengontrol rakyatnya seolah mereka hanya menjalankan perintah sang Raja.

Hingga tiba saat para Pahlawan Bangsa Indonesia menginvasi daerah Malaysia 10 tahun sebelum Malaysia merdeka (1937) membawa semangat perjuangan untuk Merdeka (sejak sumpah pemuda 1928). Disanalah segelintir bangsa Malaysia tersadar dan mulai melakukan perlawanan terhadap kolonialisme. Banyak hal yang membuat kita patut bangga sebagai Warga Negara Indonesia, selain semangat solidaritas 1 rumpun untuk merdeka, bendera yang digunakan bangsa Malaysia saat memberontak saat itu adalah Sangsaka Merah Putih.

Tepatnya 20 Oktober 1947 bangsa Malaysia mendapatkan kemerdekaan dari Inggris sejak 10 tahun perlawanan.

Namun Inggris tidak berhenti sampai disana saja, mereka membentuk partai pemerintah yg diberi nama UMNO, yang merupakan pemerintahan boneka Inggris dan hingga saat ini masih mendomiansi parlemen di Malaysia (sekedar informasi, dominasi partai UMNO salah satunya menbutakan data sejarah dan informasi pers lewat divisi kontrol informasi pemerintahan dan info yang disebar ke rakyat malaysia selalu dibuat dalam 3 bentuk, bahasa Arab untuk melayu, bahasa Cina dan bahasa Inggris dengan maksud tetap memecah 3 kubu ras tersebut agar tidak bersatu menggulingkan pemerintahan UMNO).

Jadi walaupun sudah merdeka, malaysia masih dalam kontrol Inggris. Penjajahan berlanjut sampai saat ini, dimana salah satu bentuk penjajahannya adalah dibutakannya bangsa Malaysia dari sejarah (Jadi wajar saja mereka suka mengaku-akui hal yang bukan miliknya).

Video ini sedikitnya dapat membuat kita makin bangga sebagai warga negara Indonesia. Walaupun kita dalam kondisi ekonomi yg tidak lebih baik dari malaysia, tetapi kita secara politik jauh lebih Merdeka

Maka dari itu kita bantu lestarikan dan pertahankan segala kekayaan yang kita miliki, jangan sampai hasil kekayaan kita yang menikmati bangsa lain.

Hidup Indonesia! Pertahankan wilayah dan hasil budaya kita!
Lawan Malaysia dengan video ini, biar mereka sadar, tanpa Indonesia mereka tiadk bisa Merdeka.

   
   
   

Sumber :
http://www.indowebster.web.id/archive/index.php?t-40492.html
http://10tahun.blogspot.com/
http://www.ocean-leecher.net/forum/thread-3131-page-1.html

SEMANGAT KEBANGSAAN

oleh Koes Pratomo Wongsoyudo

 

Di sekitar ujung Perang Dunia kedua , ada seorang Laksamana Inggris berkata “Didalam wilayah Britania Raya, matahari tidak pernah tenggelam“.

Dia tidak sembarangan berkata begitu .

Tanah jajahan Inggris sedemikian luasnya, sehingga matahari tidak menemukan ujung wilayah. Sebelum dia sempat tenggelam, dia sudah sampai ke bagian lain dari wilayah kekuasaan Inggris .

Kalimat itu menjadi kebanggaan orang Inggris, sebagai bangsa penakluk.

Sampai-sampai sebegitu luasnya wilayah jajahannya..

Kesadaran sebagai bangsa,dan keinginan untuk merdeka, tumbuh juga di Indonesia. Oktober 1928 , diselenggaraakan Konggres Pemuda yang mencetuskan SUMPAH PEMUDA :”Berbangsa satu , bernegara satu dan berbahasa satu INDONESIA “.

Semangat untuk merdeka-pun sampai kepada puncaknya, ketika kita mem-proklamirkan kemerdekaan kita pada tgl 17 Agustus 1945.

Jadi ketika kita merdeka, kesadaran untuk Berbangsa dan Bernegara sudah mendahului langkah perjuangan.

Ketika Belanda datang kemari pada abad ke lima belas, Bangsa Indonesia sudah berbudaya tinggi. Kekaguman Belanda atas negara yang dijajahnya, terbukti dari banyaknya benda-benda kebudayaan yang dikumpulkan di negara Belanda.

Maka boleh disimpulkan, identitas sebagai bangsa sudah definitif ada, bahkan jauh sebelum kita merdeka.

Ada budaya yang tinggi dan ada semangat kebangsaan .

Atas kesadaran itulah kita berjuang untuk merdeka.

Tidak semua bangsa-bangsa jajahan bangkit dengan melalui proses yang demikian..

Berakhirnya perang Dunia Kedua dengan kemenangan Sekutu atas Jerman -Italy –Jepang memberi hikmah kepada bangsa-bangsa terjajah.

Karena kemudian terjadi persaingan antara dua kekuatan , Rusia dengan kubu komunisnya ,melawan Amesrika –Ingris dengan sekutu-sekutunya yang menamakan dirinya NEGARA – NEGARA BEBAS.

Franklin Deleanor Roosevelt [ FDR ], Presidan Amerika Serikat ,menyadarkan para sekutunya,bahwa mereka akan kalah bersaing dengan komunis kalau tidak memberi kemerdekaan kepada tanah jajahan mereka.

Karena komunis berkampanye dengan mendukung perjuangan untuk merdeka kepada bangsa-bangsa terjajah.

Kampanye FDR ampuh.

Suaranya memang didengar dan dituruti.

Indonesia memang menyatakan merdeka ketika terjadi ke-vacum-an, karena Jepang telah menyerah pada tgl 14 Agustus 1945 dan kekutan sekutu belum sampai disini.

Tapi kemudian harus berjuang secara fisik maupun diplomasi, karena Belanda enggan melepas daerah jajahannya yang terlanjur menjadi andalan hidup.

Churchill, Perdana Menteri Inggris, menerima saran FDR untuk memerdekakan jajahannya dengan menggerutu. Menolak tidak bisa, menuruti tidak rela.

Termasuk dalam sejumlah negara-negara yang baru diberi kemerdekaan oleh Inggris itu adalah Malaysia dan Singapura.

Tapi kemudian Inggris menemukan jalan keluar yang cerdik.

Inggris memberi kemerdekan kepada tanah-tanah jajahannya, tapi langsung menampungnya dalam sebuah organisasi yang mereka sebut NEGARA PERSEMAKMURAN {Commenwealth Countries }.Negara –negara yang baru merdeka itu ditampung dalam wadah persemakmuran itu, masih dalam sebuah Sistem Ekonomi dan Pertahanan bersama Inggris.

Dua hal yang sangat membebani negara –negara baru , yang belum tahu bagaimana caranya mengelola sebuah negara. Belenggu yang dipasang Inggris justru disambut senang oleh negara- negara jajahan yang baru merdeka.

Dengan cara seperti ini , berbeda dengan Belanda yang langsung kehilangan Indonesia ,sebagai lumbung kemakmurannya selama ini, Inggris melalui system Commenwealth masih bisa mempertahankan sistem ekonominya dengan tetap mengandalkan tanah jajahan.

Malaysia dan Singapura merdeka karena perubahan administrative, tanpa proses perjuangan seperti yang dialami Indonesia.

Negara-negara itu belum mempunyai perangkat yang menjadi ciri negara dan bangsa itu.

Dengan dadakan dikaranglah bendera dan lagu kebangsaan.

Entah dengan pertimbangan apa, Malaysia mengambil lagu rakyat ‘ TERANG BULAN’ dijadikan lagu kebangsaan dengan menyesuaikan liriknya.

Lagu INDONESIA RAYA dan bendera merah putih sudah ada sejak sebelum kita merdeka.

Tidak hanya itu .

Sejumlah lagu-lagu perjuangan, ikut mendampingi Indonesia Raya.

Sebut saja “Sorak-sorak bergembira“, ”Hari Merdeka”, “Maju tak gentar“, “Hallo-hallo Bandung“, ”Butet”, “Tanah pusaka”, “Rayuan pulau kelapa“ , “Gugur bunga”, “Sepasang mata bola” dan masih banyak yang lain.

Dan diseluruh persada Indonesia berserak berbagai monumen perjuangan .

Belum lagi sejumlah budaya yang definitif menjadi identitas dan kebanggaan Bangsa kita.

Karya-karya seni dan budaya Indonesia tak terkira jumlahnya.

Sementara kita melihat tetangga kita Malaysia dan Singapura, canggung melihat dirinya sendiri dalam status yang “katanya” merdeka. Mereka mencari-cari budaya mereka. Karena tak didapat jua, maka dicurilah budaya-budaya Indonesia. Mereka mengolahnya sehingga tampak sebagai budaya mereka dan berhasil mendapatkan devisa besar dari sektor pariwisata. Sekadar catatan sektor pariwisata adalah penyumbang terbesar pendapatan nasional Malaysia.

Saya pernah berbincang dengan wartawati dari Strait Times Malaysia. Wartawati ini khusus bertugas di bidang seni dan budaya. Ketika saya bertanya apa budaya nasional kamu. Dia mejawab budaya Indonesia. Dengan kata lain, mereka tidak mempunyai budaya nasional dan bingung dengan identitas nasionalnya.

Orang Melayu Malaysia lebih merasa sebangsa dengan sesama Melayu dari Singapura, meski masing-masing berpasport lain.

Begitu juga China Malaysia, dengan China Singapura dan India Malaysia dengan India Singapura..

Dan tidak merasa sebangsa dengan sesama warga negara Malaysia dan Singapura, kalau etnisnya berbeda.

Saat ini demokrasi di Malaysia terpasung sehingga unsur kreativitas tidak tersalurkan. Demokrasi di Malaysia mengalami kemunduran dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Bahasa Melayu di Malaysia memang dijadikan bahasa resmi pemerintahan, tapi orang Melayu yang hanya bisa berbahasa Melayu dan tidak bisa berbahasa Inggris, tidak bisa berharap mencapai kedudukan tinggi, baik dalam pemerintahan maupun pada kantor-kantor swasta.

Malaysia bahkan tidak berdaya ketika bahasa Melayu “diperkosa” dengan kaidah-kaidah Inggris yang merusak. Dengarlah mereka mengatakan “ Bile-bile mase “ untuk mengatakan “any tme” dan “yang mana satu“ untuk mengatakan “which one“.

Banyak orang-orang China, kendati-pun terlahir di Malaysia, tidak pandai berbahasa Melayu. Para executive China di Malaysia, kalau perlu pergi kekantor-kantor pemerintahan, seperti imigrasi dsb.nya terpaksa membawa staff-nya yang orang Melayu, karena sekedar mengisi formulirpun dia tak pandai..

Coba kita bandingkan dengan China Solo yang tahu gending, serimpi dan batik melebihi dari orang-orang Jawa sendiri. China Solo lebih Jawa dari orang Jawa sendiri. Dan sebaliknya orang-orang Jawa Solo sanggup memainkan kesenian Barongsai dengan cakapnya.

Orang-orang Malaysia dan Singapura memang tidak melihat identitas bangsa pada dirinya sendiri. Kegagapan inilah kemudian yang mendorongnya mengakui reog, batik, keris, tarian Minangkabau, rendang, lagu Rasa Sayange, bahkan tarian Pendet sebagai miliknya, tanpa tahu apa akar yang menumbuhkan semua itu .

Inggris memang berhasil menjaga kestabilan ekonomi dalam kawasannya. Tapi membiarkan yang selebihnya.

Perasaan rendah diri orang Malaysia menatap orang Inggris tak pernah sirna. Dan sebenarnya kalau kita berhadapan dengan orang Malaysia di daerah yang netral (di luar Indonesia dan Malaysia) akan tampak mereka akan minder dengan kita. Malaysia mendapatkan kemerdekaannya bukan karena perjuangan tapi hadiah dari Inggris. Inferior complex mereka sebagai bangsa terjajah, tetap saja tidak hilang.

Pada tahun 2009 ini Indonesia merdeka enam puluh empat { 64 } tahun lamanya.

Malaysia Singapura hanya kurang sedikit dari itu.

Sejak akhir tahun lima puluhan atau awal enam puluhan Indonesia patut di sebut BANGSA BESAR di arena olahraga bulutangkis.

Menjuarai All England , Thomas Cup dan Uber Cup sudah terlalu sering.

Nama-nama besar seperti Tan Yu Hok, Ferry Sonneville , Liem Swie King , Christian Hadinata, Ade Chandra, Chunchun –Johan Wahyudi ,Susi Susanti-Alan Budikusuma, Rexy Mainaki Ricky Subakgja dan masih banyk lagi.

Bahkan Rudy Hartono menjurai All England sampai delapan kali..

Sebuah prestasi yang tidak bisa disamai siapapun.
Ada istilah “King Smaash“, “Indonesia Service” dan lain sebagainya.

Ketika FDR mengumandangkan kemerdekaan bagi bangsa –bangsa terjajah, dia bersama sekutunya telah mempertimbangkan banyak hal.

Dengan alasan mencegah tragedi kemanusiaan seperti yang terjadi pada Perang Dunia yang baru usai, sebagai pihak yang menang perang ,mereka terpanggil untuk menjaga dunia dan membentuknya seideal mungkin.

Tolok ukurnya tentu saja kepentingan mereka sendiri Amerika –Inggris dan sekutunya..

Mereka juga tahu , semua bangsa akan bergerak maju dan semakin sadar akan kepentingannya sendiri..

Betapapun kemajuan bangsa –bangsa bekas jajahan itu harus bisa dikontrol.

Seperangkat alat untuk mengontrol duniapun dibentuk.

Alat-alat itu adalah Perserikatan Bangsa Bangsa [ PBB ], Mahkamah International, Bank Dunia dan lain-lain yang disodorkan seolah untuk membantu bangsa-bangsa tertinggal.

Kalau kita mengerti itu semua, kita juga mengerti bahwa segalanya tentang Indonesia cukup mengundang kekawatiran negara-negara itu.

Bangsa dengan semangat kebangsaan yang tinggi.

Tidak seperti Malaysia. yang belum mengerti arti kebangsaan.

Indonesia adalah bangsa dengan budaya yang definitive jelas.

Negara Indonsia juga luas dan kaya akan sumber alam

Jumlah penduduk pun terbesar keempat di dunia.

Semuaunya mengarah kepada potensi untuk menjadi Bangsa dan Negara yang kuat.

Karena itu laju kemajuan Indonesia harus bisa dikendalikan.

Dalam pemberontakan –pemberontakan separatisne, terbukti berkali-kali keterlibatan Amerika.

Dalam peristiqwa Timor Timur kita kalah karena permasalhannya diserahkan kepada PBB yang dibentuk untuk menjaga kepentingan Amerika dan kawan-kawan.

Pulau Sepadan lepas karena diserahkan kepada Mahkamah Interntional, yang juga alat untuk membela kepentongan Amerika dan para sekutunya. Dan sekarang Malaysia, merongrong pulau Ambalat.

Sementara masih ada masalah Separatisme Papua, dan Gerakan Separatisme Maluku.

Yang dikehendaki mereka adalah pecah-belahnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kita tidak bisa menyepelekan hal ini.

Sekian banyak jalan untuk menuju jenjang keatas, sedemikian juga banyaknya cara orang untuk membenamkan kita.

Pengakuan terhadap kekayaan budaya kita, pulau Ambalat, kekejian terhadap TKI kita, separatisme di Papua dan Maluku , haruslah dimengerti sebagai gangguan dalam sebuah desain besar.

KEDAULATAN KITA SEBAGAI BANGSA DAN NEGARA MERDEKA SEDANG DI RONG – RONG .

Mereka menyangsikan kita bisa membela diri.

Sejumlah kelemahan dijadikan senjata.

Semakin sukar kita menerima panggilan “saudara serumpun”.

Karena kalau memang YA demikian, Malaysia harus membuktikan diri sebagai Bangsa yang Berbudaya ,sama dengan Indonesia.

Malaysia harus mebuktikan sebagai Bangsa yang Beradab, yang hukum dan pengadilannya tidak membolehkan kekejian terjadi di wilayah hukumnya.

Dan “PE –ER” kita , Indonesia , kalau masih ingin mengaku sebagai bangsa merdeka, kita harus bisa mempertahankan kedaulatan kita.

Kita harus mampu mempertahankan setiap jengkal wilayah kita dari jamahan bangsa lain.

Kita harus bisa membela setiap warga negara kita, seberapa hinanya sekalipun dia.

Kita tidak boleh membiarkan siapapun untuk merendahkan martabat banga kita .

Kita harus pintar-pintar mengelola segenap sumber daya alam dan sumber daya manusia yang kita miliki.

 

Sumber :
http://shadow.blog.undip.ac.id/2009/09/02/hanya-turut-menyemarakkan-suasana/

Membandingkan Kemerdekaan Malaysia dan Indonesia

Pada 31 Agustus nanti Malaysia merayakan kemerdekaannya yang ke-53. Sementara itu, pada 17 Agustus kemarin, Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke-65. Bagaimana jika detik-detik kemerdekaan kedua negara itu diperbandingkan?

image Kuala Lumpur sedang diguyur hujan lebat ketika puluhan ribu orang berduyun-duyun menuju Stadion Merdeka. Pagi, 31 Agustus 1957 itu, upacara penyerahan kedaulatan dari tangan Inggris akan digelar.

Tunku Abdul Rahman, seorang alumnus Universitas Cambridge yang didaulat menjadi Perdana Menteri, sudah bersiap-siap membacakan teks pemasyhuran kemerdekaan. Saat hujan reda, sekitar pukul 8, upacara pemasyhuran kemerdakaan Malaysia pun dimulai.

“Bahawasanya kerana telah tibalah masanya bagi umat Persekutuan Tanah Melayu ini mencapai taraf suatu bangsa yang merdeka lagi berdaulat sama setimpal kedudukannya dengan segala bangsa seluruh dunia.”

Di hadapan lautan manusia, di Stadion Merdeka Kuala Lumpur, Tunku Abdul Rahman mengucapkan kata-kata itu untuk menandai kemerdekaan Tanah Melayu. Sejak itu, secara de facto dan de jure, Malaysia bukan lagi jajahan Inggris, walau saat itu Indonesia tetap mencurigainya sebagai “Negara Boneka Inggris”.

Pemasyhuran kemerdekaan itu dipersiapkan dengan matang. Pada pukul 24.00 tanggal 30 Agustus 1957, digelar upacara penurunan bendera Inggris, Union Jack, di Padang Kelab Selangor, Kuala Lumpur. Ini untuk menandai berakhirnya penjajahan Inggris di Tanah Melayu, sekaligus menandai lahirnya Negara baru yang “berdaulat, setaraf dan setimpal dengan semua negara-negara yang berdaulat di dunia”. Bendera Persekutuan Tanah Melayu pun dikibarkan.

Pagi harinya, tujuh battalion tentara Malaysia ikut dalam arak-arakan menuju Stadion Merdeka. Merdeka terdiri dari Rejimen Persekutuan, Skuadron Isyarat, Skuadron Jurutera, Tentera Laut Diraja Tanah Melayu, Tentera Laut Simpanan Diraja Tanah Melayu dan Askar Sivil Persekutuan.

Para sultan, tokoh masyarakat, dan sesepuh turut hadir. Demikian juga Sir Donald MacGillivray yang menjadi orang nomor satu di Malaysia sebelum merdeka. Tampak pula pemimpin-pemimpin negara persemakmuran Inggris atau Commonwealth.

Sejumlah pemimpin negara tetangga juga turut menjadi saksi pemasyhuran kemerdekaan Malaysia.Di antara mereka adalah pemimpin Thailand, Vietnam, Burma, Kamboja, Singapura, Jepang, India, Pakistan, Hongkong, Jepang, India, Pakistan, Afrika Selatan, dan lain-lain.

Upacara pemasyhuran ini punya gaung yang kencang di dunia internasional. Apalagi, dengan persiapan yang cukup, acara ini diliput media-media internasional dan disiarkan ke seantero dunia.

Secara keseluruhan, pemasyhuran kemerdekaan Malaysia berbeda jauh dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tanpa persiapan yang matang, upacara proklamasi itu hanya dilangsungkan di kediaman Sukarno, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat, dan bukan di Lapangan Ikada (Monas) yang biasa digunakan untuk menghimpun massa. Karena itu, detik-detik pembacaan teks proklamasi pun tidak dihadiri ribuan rakyat.

Malam hari, 16 Agustus 1945, duet Sukarno-Hatta diculik para pemuda di Rengasdenglok. Dwi tunggal ini dipaksa agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia esok hari. Sukarno sendiri sebenarnya menilai tanggal 17 Agustus terlalu mepet. Segala sesuatunya belum dipersiapkan dengan matang, walaupun sebelumnya sudah dibahas di BPUPKI dan PPKI.

Teks proklamasi juga dibikin secara kilat di rumah Laksamana Maeda, di Jalan Imam Bonjol 1, Jakarta Pusat, oleh Sukarno, Hatta, dan Ahmad Soebarjo. Karena itu, bila dilihat versi aslinya, teks proklamasi penuh dengan coret-coretan tulisan tangan. Isinya singkat dan padat.

image “Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.”

Bung Karno membaca teks proklamasi itu untuk menandai lepasnya Indonesia dari belenggu penjajah. Setelah itu, sang saka merah putih dikibarkan dan hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Tak ada perwakilan Negara-negara lain yang menghadiri upacara proklamasi itu. Jepang, si penjajah yang kalah perang melawan Amerika, juga tidak menggelar seremoni resmi sebagai tanda penyerahan kedaulatan ke tangan bangsa Indonesia.

Berantem

Ketika Malaysia menggelar upacara pemasyhuran kemerdekaan, Indonesia tidak hadir. Sikap yang sama diambil Filipina. Kedua negara bertetangga ini dari awal memang menolak berdirinya Malaysia yang berdaulat. Dengan konsep Indonesia Raya-nya,Indonesia bahkan berkomitmen untuk ‘membebaskan’ Malaya dari neo-kolonialisme. Caranya adalah menjadikan Negara serumpun ini tunduk di bawah NKRI.

Konflik Indonesia-Malaysia kian mendidih saat memperebutkan Singapura, Sabah dan Serawak. Pada 31 Agustus 1963, Singapura, serta Sabah dan Serawak yang berada di pulau Kalimantan itu melepaskan diri dari cengkraman Inggris. Ketiganya menggabungkan diri dengan Federasi Malaysia.

Dengan slogan “Ganyang Malaysia”, Indonesia menolak keras hal itu. Karena terlibat konfrontasi, maka baru pada 16 September 1963, Sabah dan Serawak resmi menjadi negara bagian Malaysia. Sementara itu, pada 7 Agustus 1965, Singapura melepaskan diri Malaysia dan menjadi negara yang berdiri sendiri.

Kini Indonesia dan Malaysia hendak berantem lagi. Di usianya yang sudah berkepala enam, Indonesia mestinya bisa lebih bijaksana. Demikian juga Malaysia yang telah berkepala lima. Tidak bisakah nasionalisme itu dikobarkan tanpa mengorbankan persaudaraan sebagai sesama manusia Melayu?

 

Sumber :
http://hankam.kompasiana.com/2010/08/27/membandingkan-kemerdekaan-malaysia-dan-indonesia/

Video