Demokrasi La Roiba Fih

Judul : Demokrasi La Roiba Fih
Pengarang : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Kompas

Buku ini berisikan pandangan-pandangan Cak Nun tentang masalah-masalah yang ada di Indonesia. Dengan rasa nasionalismenya yang tinggi Cak Nun mengulas masalah demokrasi, pemilihan presiden, golput, paguyuban ahli surga bahkan menyentil bahwa negeri kita ini layaknya Gatot Kaca gagah perkasa tetapi menderita sakit lupus. Cak Nun mengupas masalah demokrasi Indonesia yang bak seorang "perawan" memiliki watak utama "mempersilakan". Tak ada konsep menolak, menyingkirkan atau membuang.
Selain itu yang tak kalah penting, Cak membahas soal Islam Indonesia yang bersikap "look up" kepada Timur Tengah, sementara Timur Tengah cenderung "look down" kepada Islam Indonesia.

Dalam salah satu tulisannya tentang Pemilu, dituliskan bahwa menurut Joyoboyo hingga Ronggowarsito, pemimpin Indonesia itu harus memiliki parameter-parameter :
  • Satrio : cakap, ulet, pejuang, prigel, profesional, menguasai multi masalah, manajer pembangunan dan panglima solusi.
  • Pinandhito : tak terpesona oleh harta dan kedudukan, filosofi hidupnya matang mendalam, bijaksana, arif dan adil dalam kehidupan nyata, berkadar pemimpin rohani.
  • Sinisihan Wahyu : harus tampak indikator bahwa Tuhan turut terlibat memengaruhi konstituen, ikut memilih presiden sehingga tak mungkin pilihan Tuhan bisa dikalahkan.
Sedangkan untuk rakyat Indonesia digambarkan memiliki ketangguhan yang luar biasa sehingga posisinya bukan untuk menuntut, menyalahkan dan menghukum, melainkan menerima, memafhumi kekurangan dan sangat mudah untuk memaafkan kesalahan. Rakyat begitu sabar, tahan dan arif ketika mereka dituntut, dipersalahkan dan dihukum oleh pemerintah. Meskipun sering kali rakyat merasa bahwa keberadaan pemerintah sebenarnya lebih banyak mengganggu daripada membantu, lebih banyak merugikan daripada menguntungkan, atau lebih banyak mengkisruhkan daripada menenangkan, tetapi rakyat tak akan pernah mengungkapkan kandungan hatinya itu.

Apakah makna sepatu bagi kita? Mengapa kita menggunakan sepatu? Sepatu digunakan untuk melindungi kaki kita dari kotoran, duri dan barang-barang tajam lainnya. Tetapi sebelum menggunakan sepatu gunakanlah kaos kaki. Gunanya untuk melindungi kaki dari sepatu karena kaki akan luka bila bergesekan langsung dengan sepatu. Jadi sebenarnya sepatu itu melindungi atau kah mengancam kaki kita? Kalau kita kaitkan dengan kehidupan nyata ternyata banyak sekali "sepatu-sepatu" di sekitar kita yang hakikatnya seperti sepatu, seolah-olah melindungi tetapi ternyata mengancam atau seolah-olah mereka mengancam tetapi ternyata melindungi. Semua itu terserah pada Anda masing-masing.

Tulisan yang paling menarik bagi saya adalah tulisan tentang Israel. Diceritakan bahwa Israel memiliki segala data dan fakta tentang NKRI, pemetaan kekayaan alamnya, kekuatan dan kelemahan politik dan militernya, pemetaan sosial budayanya, daftar tokoh-tokoh dari segala bidang dan informasi tersebut di-update tiap minggunya. Betul-betul mengejutkan. Mereka ternyata lebih mengenal Indonesia dibanding kita-kita orang Indonesia sendiri. Yang lebih mengejutkan lagi adalah bahwa peta Indonesia Raya dijadikan center display di sebuah web Israel dan Amerika Serikat dan diberi tanda merah di beberapa daerah tertentu dari Nusantara. Apa artinya tanda merah itu?

Israel juga memiliki situs berbahasa Indonesia. Ditanyakan juga oleh Cak Nun kepada temannya yang seorang Rabi, mengapa bagian tengah atas atau puncak mahkota keagamaan yang beliau pakai memimpin peribadatan di Synagoge sama dengan desain bagian atas rumah-rumah Pulau Jawa bagian utara. Juga ditanyakan kenapa ibu kota Israel tidak Tel Aviv saja tapi Java Tel Aviv. Lalu kenapa kantor-kantor Yahudi di berbagai Negara pakai kata Java. Apa hubungan dua konsonan yang sama antara J dan W, Jewish dan Jawa. Mana yang lebih tua: Jewish atau Jawa.

Dari dunia Jawa sendiri pun muncul sedikit informasi bahwa beberapa waktu yang akan datang akan terjadi hasil "taruhan" antara Yahudi (Jewish) dan Jawa (bukan Jawa non-Sunda, non-Batak dalam pengetian 100 tahun terakhir). Kalau Yahudi yang memenangkan persaingan memimpin dunia, maka mereka akan mengajak Jawa menjadi rekanan kerja. Tetapi bila Jawa yang 'juara' mereka akan berguru kepada Jawa. Dengan demikian adakah hubungan antara Jewish (Yahudi) dan Jawa?


Video